09 Oktober 2012

Pujian

“Wah, warna tas yang Anda pilihkan kemarin benar-benar cocok untuk gaun saya,” demikian kata seorang pelanggan wanita di seberang telepon. Suaranya terdengar gembira. Pegawai toko yang menerima panggilan telepon itu sampai tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, kelu.

Ia meletakkan kembali gagang telepon secara perlahan-lahan sambil membatin, “Baru pertama kali ini dalam sejarah pekerjaanku selama 12 tahun aku mendapat telepon dari pelanggan, hanya untuk menyampaikan pujian atas apa yang aku kerjakan. Selama ini aku ditelepon jika ada hal-hal yang tidak beres. Inilah pertama kalinya seorang pelanggan memuji pekerjaanku.” Pegawai itu pun tersenyum. Dan senyum itu tetap bertengger di bibirnya sepanjang hari itu.


Pujian memang memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mengubah sikap dan perilaku seseorang. Sayang tidak banyak orang melakukannya. Kebanyakan orang tidak bisa melontarkan pujian kepada orang lain atau sesuatu, karena lebih melihat kelemahan-kelemahan orang atau sesuatu itu.

Ada juga alasan lain mengapa orang sulit memuji. Para majikan jarang memuji bawahannya karena khawatir, jangan-jangan kalau dipuji para karyawan akan meminta kenaikan gaji.

Orangtua juga enggan memuji anak-anaknya karena takut anak-anak akan menjadi besar kepala. Pasangan suami istri segan memuji karena menganggap tidak perlu lagi memuji ketika telah menikah atau takut diolok-olok oleh pasangannya.

Orang juga tidak bisa melontarkan pujian karena dia kurang menerima pujian pada masa kecilnya. Yang lebih celaka adalah apabila orang tidak mau memuji karena jauh di dasar hatinya ia merasa kecil, merasa tidak sebaik orang lain.

John Ruskin, penulis dan pelukis Inggris kenamaan, telah meneliti bahwa sukses terbesar dari umat manusia disebabkan oleh pujian, khususnya pada masa kanak-kanak.

Bagaimana dengan kita? Seberapa sering kita mendapat pujian dalam pekerjaan kita? Apakah kita termasuk orang yang pelit memuji? Tentu saja pujian harus diberikan dengan tulus, tidak pura-pura, tidak sekadar mengambil hati.

Lebih dari itu, bagaimana relasi kita dengan Tuhan? Apakah selama ini kita hanya meminta ini dan itu, dan jarang atau bahkan lupa memuji Tuhan?

Marilah kita belajar dari Pemazmur yang dengan tulus memuji Tuhan, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil.” “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.” “Biarlah segala yang bernapas memuji Tuhan!” —Liana Poedjihastuti

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 9/10/2012 (diedit sedikit)

==========


Artikel Terbaru Blog Ini