23 Desember 2012

Benih Kepercayaan

Pada pemakaman Kathryn Lawes, istri mantan sipir penjara di New York, para narapidana beramai-ramai melayat. Sejenak mereka menghirup udara bebas.

Seusai upacara, tak satu pun dari mereka berusaha kabur. Dengan patuh semua kembali ke sel masing-masing. Apa rahasianya?

Semasa hidup, Nyonya Lawes membiarkan anak-anaknya bermain dengan para narapidana itu. Ia percaya mereka akan berlaku baik kepada anak-anaknya.

Kesan dipercayai, itu yang membekas di hati para narapidana. Sehingga mereka tak mau menodai kepercayaan yang diberikan waktu diizinkan keluar untuk melayat orang yang telah memercayai mereka.

Sejumput benih kepercayaan ditanam, hasilnya tak mengecewakan. Semua orang butuh dipercayai. Besar kemungkinan kebaikan dalam dirinya tumbuh jika ia dipercayai.


Semua hubungan baik berlandasan kepercayaan. Suasana kerja yang baik dibangun di atas kepercayaan. Prestasi bertumbuh karena ada kepercayaan. Pelayanan yang berbuah memerlukan sikap saling percaya.

Sudahkah kita menanam benih percaya-memercayai dalam berkeluarga, berteman, bekerja sama, berorganisasi, bermasyarakat? Jika kita ingin dipercayai, begitu pun orang lain. —PAD

Orang yang dipercayai dengan cara yang benar akan menjadi orang yang dapat dipercaya. ~Abraham Lincoln

* * *

Sumber: e-RH, 30/3/2011 (dipersingkat)

==========

14 Desember 2012

Kepedulian Sosial

Sebuah novel Portugis berkisah tentang seorang pemuda bernama John yang mengadakan perjalanan ke India untuk mencari nafkah. Setelah beberapa tahun, ia kembali ke Lisbon dengan beberapa kapal penuh harta benda.


Timbul idenya untuk menguji para kerabat dan sahabatnya. Katanya, “Aku akan mengadakan suatu permainan.” Ia kemudian mengenakan pakaian yang sudah usang dan pergi ke rumah Peter, sepupunya.

“Peter, aku ini John, sepupumu. Tidakkah engkau mengenaliku? Setelah beberapa tahun merantau ke India, aku kini kembali. Aku sekarang sedang kebingungan di mana aku akan tinggal. Bolehkah aku tinggal di rumahmu untuk sementara waktu?”

Dengan serta merta sepupunya menjawab, “Oh John, betapa aku ingin engkau dapat menginap di rumahku. Tapi sayang, tidak ada satu ruang pun yang kosong di rumahku.”

Kemudian John menuju rumah seorang sahabatnya, dan sahabatnya yang lain, tapi di mana-mana ia mendapati pintu tertutup baginya.

Akhirnya John kembali ke kapalnya, mengenakan pakaian terbaiknya, menjelajahi kota Lisbon dengan pelayan-pelayan yang mengiringinya. Ia membeli rumah yang besar di jalan utama Kota Lisbon.

Dalam waktu singkat, berita tentang harta kekayaanya telah tersebar ke segala penjuru kota.

“Siapa sangka ia seperti sekarang keadaannya,” kata saudara dan teman-teman yang telah bersikap tidak bersahahat kepadanya.

“Coba kalau kita tahu sebelumnya, betapa berbedanya perlakuan kita kepadanya. Dan sekarang kita telah merusak kesempatan kita dengannya,” kata mereka tanpa malu.

Bukankah novel itu mengandung kebenaran dalam kenyataan hidup? Betapa ironis. Bukankah kepada mereka yang sudah kaya, terhormat, pintar, biasanya kita menaruh hormat, memberi hadiah, menyediakan pemberian atau sumbangan yang mahal dan pantas?

Tetapi, kepada yang tidak punya, “orang-orang kecil”, kita berlaku semena-mena, memberikan ala kadarnya, ditambah dengan gerutuan.

Marilah mengasah kepekaaan kita, agar di zaman yang semakin sulit ini, kita mau mengulurkan tangan bagi orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan. —Liana Poedjihastuti

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 14/12/2012 (diedit seperlunya)

Judul asli: Kristus di Tengah Kita

==========

06 Desember 2012

Saling Membutuhkan

Harian Los Angeles Times, 20 November 1988, melaporkan sebuah insiden. Seorang wanita terperangkap dalam sebuah mobil, dan menggantung pada sebuah sisi jalan tol Los Angeles Timur.

Wanita itu sungguh beruntung, karena pada akhirnya bisa diselamatkan oleh para pengemudi yang pagi itu melintas di jalan tol tersebut, bersama-sama dengan petugas pemadam kebakaran dan pengemudi truk derek, yang semuanya berjumlah dua puluh lima orang.

Mereka semua bersusah payah mengupayakan keselamatan wanita tersebut, dimulai dengan mengambil tambang dari salah satu mobil mereka, mengikat belakang mobilnya, menjulurkan sebuah tangga dari truk pemadam kebakaran untuk menstabilkan posisi mobil, dan pada akhirnya mengikatkannya pada truk derek, serta menariknya keluar dari pembatas jalan tol.

Namun sungguh lucu dan sedikit menjengkelkan dalam peristiwa itu, sebab pada saat semua orang bersusah payah berusaha untuk menolongnya, wanita tersebut justru berteriak-teriak “Biar saya kerjakan sendiri! Biar saya kerjakan sendiri!”

Padahal, mana mungkin ia bisa melakukan sendiri, sedangkan dua puluh lima orang saja bersusah payah mengupayakan pertolongannya dengan berbagai alat berat selama dua setengah jam? Tetapi, itulah kenyataan yang terjadi.

Sepertinya wanita tersebut merasa sama sekali tidak membutuhkan pertolongan orang lain. Bukankah hal itu juga yang sering terjadi di tengah-tengah kita? Ya, ada banyak orang yang begitu sombong untuk mengakui bahwa dirinya membutuhkan orang lain.

Padahal, siapakah kita? Bukankah kita adalah makhluk yang begitu lemah dan penuh dengan keterbatasan, sehingga kita pasti membutuhkan sesama kita?

Maka dari itu, tentunya kita perlu menyadari akan keberadaan kita tersebut. Artinya, marilah kita mengakui dengan segala kerendahan hati, bahwa di dalam hidup ini kita membutuhkan orang lain.


Kita diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, tetapi saling bergantung satu dengan yang lain. Sebuah nasihat yang sangat relevan dan berlaku bagi kehidupan kita, yaitu: kita harus senantiasa bertolong-tolongan menanggung beban ataupun pergumulan sesama kita.

Di saat orang lain membutuhkan pertolongan kita, kita harus siap sedia dan segera menolongnya. Pada saat yang lain, ketika kita mungkin diperhadapkan pada pergumulan-pergumulan hidup, kita juga bersedia menerima pertolongan. —Pdt. David Nugrahaning Widi

Tidak seorang manusia pun yang mampu hidup tanpa orang lain.

* * *

Sumber: KristusHidup.org, 6/12/2012 (diedit seperlunya)

Judul asli: Engkau Kubutuhkan

==========

05 Desember 2012

Mengasihi Secara Total

Ada kisah nyata tentang seorang bapak tua mantan pecandu alkohol di Kalifornia bernama Rings. Sejak percaya kepada Tuhan, ia tak pernah lagi memakai nafkahnya untuk membeli alkohol.

Ia tinggal di kabin mobil dan tak berusaha menyewa tempat tinggal yang lebih baik. Ia memakai semua uangnya untuk membeli bahan makanan dan memasaknya bagi para tunawisma, sembari bercerita tentang Tuhan yang telah memberi kemerdekaan dalam hidupnya.

Ia mengatakan bahwa Tuhan-lah yang menyuruhnya memberi makan orang lain dengan uang yang Dia berikan kepadanya, karena Tuhan mengasihi mereka.

Memberikan seluruh nafkah, itu juga yang dilakukan seorang janda yang datang ke Bait Allah pada zaman Yesus. Persembahannya adalah dua keping mata uang Yahudi yang terkecil nilainya. Namun, Yesus tahu apa arti uang itu bagi sang janda. Seluruh nafkahnya.


Orang-orang kaya bisa memberikan sebagian hartanya tanpa terganggu standar hidupnya. Namun, persembahan janda itu mungkin membuatnya tidak bisa makan seharian.

Kita bisa dengan mudah memberi waktu dan uang untuk kegiatan-kegiatan berlabel rohani selama itu tidak mengganggu kehidupan pribadi atau keluarga kita.

Tanpa sadar kita telah membagi ruang hidup kita menjadi "yang sekuler" dan "yang rohani", yang "milik kita" dan yang "milik Tuhan". Tuhan ingin kita mengasihi-Nya dengan totalitas hidup. Bagaimana kita akan menerapkan perintah ini? —MEL

Tuhan ingin kita mengasihi-Nya secara total. Semua aspek dalam hidup adalah persembahan kita bagi-Nya.

* * *

Sumber: e-RH, 5/12/2012 (diedit seperlunya)

==========

01 Desember 2012

Setetes Madu

“Anda akan mendapatkan apa yang Anda inginkan di dalam hidup ini apabila Anda mau membantu orang lain mendapatkan apa yang mereka inginkan.” Kata-kata bijak Zig Ziglar ini ingin mengingatkan kita, yang rata-rata adalah manusia biasa, untuk membangun hubungan sebaik mungkin dengan orang lain.

Inilah jalan terbaik untuk mengatasi kelemahan kita, yakni memanfaatkan kekuatan orang lain. Cara yang elegan untuk mendapat kekuatan itu adalah dengan menolong orang lain mengatasi kelemahan dan kesulitan mereka.

Kita bisa belajar dari pepatah kuno yang sangat dikagumi oleh Abraham Lincoln: “Setetes madu bisa menangkap lebih banyak lalat daripada segalon empedu.” Inilah cara terhebat untuk memenangkan hati orang lain.

Caranya, menurut Salomo (Nabi Sulaiman) adalah dengan perkataan yang menyenangkan. Kata-kata yang menyenangkan itu gratis, tetapi bisa mengalirkan dukungan kepada kita.

“Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” —Salomo


Setetes madu bisa menggerakkan orang lain untuk membantu kita mewujudkan impian dan tujuan kita. Transformasikanlah kebaikan kita menjadi sapaan lembut dan senyum hangat kepada orang-orang yang kita jumpai. Tentu saja harus dilandasi dengan hati yang tulus.

Biarlah kebaikan kita mewujud menjadi doa, simpati, pertolongan, apresiasi, pengertian, motivasi, dan juga kepedulian kepada orang lain.

Itulah setetes madu yang bisa kita berikan untuk memenangkan hati siapa pun agar mendukung kita. Ini senapas dengan ajaran yang berbunyi: Berilah dan kamu akan diberi!

Memberi adalah membuka diri, membuka hati kita, maka orang lain akan memberi dengan membuka hati mereka untuk kita. Tidak ada pintu yang terbuka jika setiap orang mengunci diri. Tidak ada orang yang mendengarkan jika semua orang berbicara tentang dirinya sendiri.

Kita juga tidak mungkin membangun sebuah persahabatan jika Anda dan saya selalu saja mendasarinya demi kepentingan sendiri, hanya tamak semata.

Percayalah, jika kita menabur kebaikan, orang lain yang juga merindukan kebaikan, takkan sanggup menahan diri untuk membalas dengan kebaikan pula. Sikap baik itu menular [tetapi Anda jangan naif, ada juga beberapa orang yang sudah “divaksin” sehingga tidak tertular oleh kebaikan].

Sikap baik memberikan sinyal kepada orang lain untuk berbuat baik. Ketika Anda bermurah hati, orang lain takkan bisa menahan diri untuk tidak murah hati.

Jadi, bukalah hati kita, arahkan kebaikan Anda dan saya kepada orang lain dengan menyalakan empati, menggerakkan hati, pikiran dan tindakan kita, niscaya mereka akan melakukan hal yang sama untuk kita.

Marilah memenangkan hati orang-orang di sekitar kita dengan setetes madu. —Agus Santosa

Ketika seseorang terbungkus di dalam dirinya sendiri, ia hanya menjadi sesuatu yang sangat kecil. —John Ruskin

* * *

Sumber: KristusHidup.org, 1/12/2012 (diedit seperlunya)

==========

27 November 2012

Jangan Ngegosip

Ada nasihat demikian: "Apabila Anda membicarakan keburukan seseorang, jangan lupa memulai dan menutupnya dengan doa. Maka gosip itu akan berubah namanya menjadi sharing."

Apakah Anda setuju dengan nasihat lucu tersebut? Jangan-jangan tanpa disadari, kita pun sering menuruti nasihat itu.

Apabila kita melihat saudara kita berbuat dosa, firman Tuhan meminta kita untuk pertama-tama menegurnya di bawah empat mata. Ini berarti kita diminta berbicara langsung dengan pihak yang kita anggap berbuat dosa.

Dengan melakukannya kita bisa segera mendapat penjelasan maupun pertobatan. Ini dimaksudkan menjadi sebuah tindakan kasih, karena tujuannya adalah kembalinya saudara kita.

Sementara, gosip memilih untuk membicarakan keburukannya dengan orang lain dengan maksud agar orang menjadi bersikap negatif terhadap objek yang dibicarakan.


Orang yang menjadi bahan pembicaraan tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan tindakannya, atau mendapat kesempatan untuk segera bertobat. Ia secara tidak adil telah dihakimi, entah benar atau salah perbuatannya.

Sering kali pelayanan terhambat karena hal yang sederhana ini. Kita gagal mengasihi sesama saudara. Adakah saudara kita yang telah berbuat dosa? Doakanlah dan temuilah ia secara pribadi untuk melihat ia berbalik dari dosanya.

Pikirkan dengan saksama, siapa yang patut mendengar kesalahan saudara kita. Kalau kita telah menceritakan kepada orang yang tidak berkepentingan, kita sedang menggosip.

Apabila kita diajak bergosip, tegurlah orang yang mengajak kita, dan sarankan untuk mengikuti prosedur yang dikatakan oleh firman Tuhan di atas (tegurlah dia di bawah empat mata). —PBS

Kasih yang sejati selalu berusaha agar saudara yang terhilang segera kembali.

* * *

Sumber: e-RH, 27/11/2012 (diedit seperlunya)

==========

26 November 2012

Jangan Pura-Pura Tidak Tahu

Pernah beredar sebuah video singkat di media massa tentang seorang anak yang tertabrak di jalan yang cukup ramai. Anehnya, beberapa orang yang melihat sang anak tergeletak, hanya memandangnya dan berlalu tanpa peduli.

Hingga kemudian, seorang wanita menghampiri sang anak lalu bergegas menolongnya. Wanita itu akhirnya memperoleh penghargaan dari pemerintah setempat. Bersamaan dengan itu, bermunculanlah kecaman terhadap penduduk setempat yang tidak peduli terhadap korban.


Mengambil inisiatif untuk menolong orang lain bukan pilihan yang otomatis akan diambil kebanyakan orang. Tetapi umat Tuhan diminta untuk hidup berbeda dari orang-orang yang tidak mengenal-Nya.

Dalam salah satu bagian Kitab Suci, Tuhan memerintahkan agar umat-Nya berusaha mengembalikan atau merawat binatang peliharaan milik saudaranya yang tersesat atau mengalami celaka. Ini berlaku juga untuk barang apa pun yang mereka temukan.

Mereka tidak boleh "cuek" atau pura-pura tidak tahu. Tindakan yang demikian akan membuat orang yang kehilangan terhindar dari kerugian dan bersukacita karenanya. Ini merupakan perintah yang indah, melatih kepedulian dan inisiatif untuk berbuat baik.

Bagaimanakah kita berespons terhadap kemalangan atau kekurangberuntungan orang lain? Bukan kita yang merancang kecelakaan dan kemalangan mereka, tetapi kita berada dalam posisi yang dapat menolong mereka.

Apakah itu sebuah kebetulan? Ataukah kesempatan yang Tuhan berikan untuk menyatakan kasih-Nya secara personal? Apakah kita akan melakukan sesuatu? Ataukah kita berlalu dan pura-pura tidak tahu? —PBS

Kasih kepada sesama mendorong kita melakukan yang terbaik baginya.

* * *

Sumber: e-RH, 26/11/2012 (diedit seperlunya)

Judul asli: Pura-Pura Tidak Tahu

==========

24 November 2012

Mengasihi Sesama

Seorang suami heran karena istrinya membeli jenis beras yang kualitasnya jauh di bawah beras yang biasa mereka beli. Sang istri menjelaskan, "Oh, ini untuk disumbangkan ke rumah yatim piatu. Kalau beras mahal kan untuk kita konsumsi sendiri."

Mengupayakan yang terbaik untuk diri sendiri dan tidak harus memakai ukuran yang sama ketika itu untuk kepentingan orang lain adalah keputusan yang sering kita anggap wajar, bukan?

Kita sering menganggap bahwa mengasihi Tuhan lebih penting daripada mengasihi sesama. Kita bahkan sering menggunakan dalih rohani untuk mengabaikan tanggung jawab kepada sesama.


Sesungguhnya mengasihi sesama bobotnya sama dengan mengasihi Tuhan. Yang dimaksud dengan sesama atau "sesama manusia", bukan sesama ras, agama, atau kedudukan.

Artinya, sepanjang seseorang adalah manusia, ia harus kita kasihi. Bahkan ukuran yang seharusnya dipakai adalah "seperti mengasihi diri sendiri". Sebuah standar yang sangat tinggi, karena biasanya hampir semua orang akan mengusahakan hal-hal yang terbaik bagi diri sendiri.

Siapa yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan.

Bagaimanakah kasih kita pada sesama di sekitar kita? Hari ini, perhatikanlah orang-orang yang sering Anda jumpai. Pikirkanlah hal-hal baik apa yang Anda ingin terjadi dalam hidup mereka, dan bagaimana Anda bisa menjadi alat Tuhan untuk mewujudkannya. —PBS

Melayani Tuhan dengan mengasihi sesama adalah perintah yang tak bisa dibantah.

* * *

Sumber: e-RH, 24/11/2012 (diedit seperlunya)

Judul asli: Kasihilah Sesamamu

==========

23 November 2012

Menguasai Pikiran

Surat dari seorang rekan membuat apa yang sudah saya rencanakan jadi berantakan. Berbagai pemikiran berbaris di kepala saya. Mulai dari kemarahan atas isi suratnya, kekhawatiran akan persepsi orang yang terbentuk olehnya, penilaian jelek saya tentang karakter rekan tersebut. Juga skenario balasan untuk mematahkan argumennya.

Sukar memikirkan hal-hal yang baik tentang orang itu maupun cara-cara yang bersahabat untuk menyelesaikan masalah. Pemikiran negatif saya memicu reaksi yang negatif pula.


Ketika menghadapi perselisihan, sebaiknya kita tetap mengarahkan fokus pemikiran pada hal-hal yang positif. Bukan berarti mengabaikan masalah, melainkan tidak terus berputar-putar dalam masalah.

Memikirkan apa yang Tuhan ingin untuk kita lakukan adalah langkah yang seharusnya diambil. Antara lain: menjunjung kebenaran dan berani mengakui kesalahan, mengambil keputusan yang objektif, menegur kesalahan dengan kasih, memberi dorongan semangat, serta berinisiatif untuk memulihkan hubungan.

Fokusnya bukan membenarkan diri sendiri, tetapi melakukan apa yang berkenan di hati Tuhan. Ini akan menjadi kesaksian yang indah bagi orang-orang yang melihatnya.

Apa yang kita biarkan menguasai pikiran kita akan sangat memengaruhi tindakan-tindakan kita. Ketika kemarahan, keluhan, kesedihan mulai menguasai, tahanlah diri untuk langsung bereaksi.

Datanglah kepada Tuhan memohon damai sejahtera-Nya melingkupi kita. Mintalah pertolongan Tuhan untuk mengarahkan pikiran kita pada hal-hal yang berkenan di hati-Nya. —ELS

Tuhan, kuasailah pikiranku dengan pikiran-Mu, agar aku dapat melakukan hal-hal yang menyukakan hati-Mu.

* * *

Sumber: e-RH, 23/11/2012 (diedit seperlunya)

Judul asli: Sebelum Bereaksi

==========

21 November 2012

Jiwa Pengkritik

Jerry Bridges bercerita tentang seorang ayah yang sering sekali mengkritik anak perempuannya seolah-olah ia tidak bisa melakukan apa pun dengan benar. Anak ini tumbuh sebagai anak yang merasa tertolak dan ketika dewasa ia mencari orang-orang yang bisa membuatnya merasa diterima.

Ketika ayahnya sadar, anak ini sudah hidup dalam seks bebas dan menjadi pecandu kokain. Kasus ini termasuk ekstrem, tak semua kritik bisa menimbulkan dampak separah itu. Namun, pada dasarnya, semangat mengkritik dan menghakimi memang bersifat menghancurkan.


Berbeda pendapat boleh-boleh saja, tetapi janganlah saling menghakimi dan menghina. Masing-masing kelompok tidak perlu merasa diri paling benar (karena yang dianggap ‘benar’ itu belum tentu betul-betul benar), apalagi memandang rendah kelompok yang berbeda dengan mereka. Mengapa kita ingin bertindak sebagai Allah bagi orang lain?

Hal-hal yang tidak sesuai dengan firman Tuhan jelas perlu ditegur. Namun, berhati-hatilah agar ketika melakukannya kita tidak terjebak dalam sikap merasa diri paling benar dan merendahkan orang yang punya pendapat berbeda.

Ungkapkanlah ketidaksetujuan kita dengan cara yang bijak, tidak kasar, apalagi sampai membunuh karakter seseorang. Sadarilah bahwa kita pun masih jatuh bangun dalam dosa dan membutuhkan kasih karunia Tuhan. —MEL

Teguran dalam kasih sangat diperlukan. Namun, jiwa yang suka mengkritik dapat menghancurkan.

* * *

Sumber: e-RH, 21/11/2012 (diedit seperlunya)

==========

16 November 2012

Paradoks Perilaku

Dua orang pendaki gunung merasa kelelahan, tetapi harus terus berjalan meninggalkan pegunungan es yang dingin membeku. Di tengah perjalanan mereka bertemu seorang pendaki yang rebah, nyaris mati kedinginan.

Pendaki pertama segera menolong, tetapi rekannya menolak, karena itu akan menjadi beban, sementara stamina mereka sudah payah. Pendaki kedua melanjutkan perjalanan, meninggalkan pendaki pertama yang setapak demi setapak berjalan menggendong pendaki asing yang tak dikenalnya.


Keputusan pendaki yang murah hati itu mengingatkan kita pada sebuah nasihat: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”

Benar, beberapa kilometer kemudian, pendaki pertama menemukan rekannya jatuh tergeletak kedinginan. Ia heran, tidakkah rekannya berjalan seorang diri tanpa beban? Sementara ia tertatih-tatih menggendong pendaki yang tak dikenal.

Penolong ini tidak menyadari, bahwa dengan menggendong orang di punggungnya, tubuh mereka saling menghangatkan. Ada koneksitas energi di antara kedua tubuh yang saling mengantarkan panas, dan itu membuat mereka lebih hangat.

Akal sehat kita sudah terlanjur menilai bahwa menolong orang lain akan melemahkan kita, ternyata menolong justru memberikan kekuatan dan energi kepada kita.

Kita lupa bahwa kekuatan suatu rantai justru terletak pada mata rantai yang paling lemah, mata rantai paling retas atau paling mudah putus.

Ini suatu paradoks, di mana kekuatan justru ditentukan oleh satu titik yang paling lemah. Hal ini juga tampak pada perilaku kita dalam menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitar kita. Saling menolong sering menjadi paradoks perilaku kita.

Bukankah kita lebih sering mengharapkan dibantu daripada membantu? Kita menuntut orang lain lebih memahami kemauan kita ketimbang menyediakan diri untuk memahami keinginan orang lain. Kita cenderung berbicara lebih banyak daripada mendengarkan orang lain berbicara. Kita lebih senang memerintah daripada diperintah. Kita lebih senang dilayani daripada melayani.

Saudaraku, ketika kita merasa lebih penting daripada siapa pun, kita sedang menjadi mata rantai yang lemah dalam membangun hubungan dengan orang lain. Ketika kita lebih mau mendengarkan, memahami, dan melayani orang lain, sesungguhnya kita sedang membangun rantai yang kuat. —Agus Santosa

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 16/11/2012 (diedit seperlunya)

Judul asli: Paradoks Kita

==========

14 November 2012

Menjinakkan Keinginan

Semua orang pasti memiliki keinginan. Memiliki keinginan bukan suatu kekeliruan atau kesalahan. Malah kalau seseorang tidak memiliki keinginan, itu aneh.

Sekali lagi, mempunyai keinginan tidak salah. Tetapi masalahnya adalah ketika keinginan itu tidak dikendalikan, tidak dijinakkan, maka bisa menghilangkan kepekaan kita terhadap sesama.

Hilangnya kepekaan itu akan menimbulkan petaka, baik bagi orang lain maupun diri sendiri. Mengapa?

Ketika memiliki keinginan, kita cenderung mengambil dulu bagian terbaik, masa bodoh dengan orang lain atau biarlah yang lain mendapat sisanya.

Kita harus mampu membedakan keinginan dan kebutuhan. Kata orang bijak, dunia ini bisa mencukupi kebutuhan semua orang, tetapi dunia tidak bisa mencukupi keinginan satu orang. Kebutuhan ada batasnya, keinginan tak terbatas.

Apakah keinginan Anda saat ini? Kekayaan? Jabatan atau kekuasaan? Ingin bahagia, kehormatan, kemuliaan, umur panjang, kesuksesan, kesehatan? Banyak ya keinginan kita? Pasti semua menginginkan yang baik-baik, yang enak-enak bukan?


Sekali lagi memiliki keinginan memang tidak keliru, tetapi bagaimana keinginan itu dapat bermanfaat bagi sesama dan kemuliaan Tuhan, itu yang harus diupayakan.

Apakah keinginan kita untuk memuaskan hasrat kita sendiri ataukah akan memberkati sesama dan memuliakan Tuhan? —Liana Poedjihastuti

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 14/11/2012 (dipersingkat)

==========

14 Oktober 2012

Belalang

Alkisah ada lima bersaudara yang selalu berkelahi, yang satu tidak mau kalah dengan yang lain. Pada suatu hari, ayah dari kelima bersaudara tersebut mengambil seikat sapu lidi dan menyuruh anak-anaknya mematahkan sapu lidi tersebut.

Tak seorang pun dari mereka sanggup melakukannya. Kemudian si ayah membuka ikatan sapu lidi tersebut dan menyuruh anak-anaknya mematahkan setiap batang lidi, yang tentu saja bisa dilakukan dengan mudah.

Kata sang ayah, “Kalau kalian bersatu dan hidup rukun tidak akan ada yang dapat menyakiti kamu, dan pekerjaan yang sulit sekalipun bisa diselesaikan bersama-sama”. Sejak itu mereka hidup rukun.

Seekor belalang yang sendirian dan melompat-lompat di halaman rumah kita adalah makhluk kecil yang lemah. Namun apabila sekawanan belalang menyerang suatu sawah atau ladang, maka petani akan kalang kabut menghadapi kawanan belalang yang melahap tanaman mereka.


Baik cerita tentang lima bersaudara tadi maupun kawanan belalang mengingatkan kita pada kekuatan bekerja sama. Apa yang tidak dapat kita lakukan sendiri dapat kita lakukan dengan baik secara bersama-sama. Kita dapat belajar dari makhluk kecil ini.

Marilah kita menciptakan suatu komunitas yang saling mengasihi, saling membantu dengan mengesampingkan kepentingan diri sendiri, baik di tempat kerja kita ataupun di lingkungan masyarakat di mana kita berada. —Irene Talakua

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 14/10/2012 (diedit seperlunya)

==========

09 Oktober 2012

Pujian

“Wah, warna tas yang Anda pilihkan kemarin benar-benar cocok untuk gaun saya,” demikian kata seorang pelanggan wanita di seberang telepon. Suaranya terdengar gembira. Pegawai toko yang menerima panggilan telepon itu sampai tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, kelu.

Ia meletakkan kembali gagang telepon secara perlahan-lahan sambil membatin, “Baru pertama kali ini dalam sejarah pekerjaanku selama 12 tahun aku mendapat telepon dari pelanggan, hanya untuk menyampaikan pujian atas apa yang aku kerjakan. Selama ini aku ditelepon jika ada hal-hal yang tidak beres. Inilah pertama kalinya seorang pelanggan memuji pekerjaanku.” Pegawai itu pun tersenyum. Dan senyum itu tetap bertengger di bibirnya sepanjang hari itu.


Pujian memang memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mengubah sikap dan perilaku seseorang. Sayang tidak banyak orang melakukannya. Kebanyakan orang tidak bisa melontarkan pujian kepada orang lain atau sesuatu, karena lebih melihat kelemahan-kelemahan orang atau sesuatu itu.

Ada juga alasan lain mengapa orang sulit memuji. Para majikan jarang memuji bawahannya karena khawatir, jangan-jangan kalau dipuji para karyawan akan meminta kenaikan gaji.

Orangtua juga enggan memuji anak-anaknya karena takut anak-anak akan menjadi besar kepala. Pasangan suami istri segan memuji karena menganggap tidak perlu lagi memuji ketika telah menikah atau takut diolok-olok oleh pasangannya.

Orang juga tidak bisa melontarkan pujian karena dia kurang menerima pujian pada masa kecilnya. Yang lebih celaka adalah apabila orang tidak mau memuji karena jauh di dasar hatinya ia merasa kecil, merasa tidak sebaik orang lain.

John Ruskin, penulis dan pelukis Inggris kenamaan, telah meneliti bahwa sukses terbesar dari umat manusia disebabkan oleh pujian, khususnya pada masa kanak-kanak.

Bagaimana dengan kita? Seberapa sering kita mendapat pujian dalam pekerjaan kita? Apakah kita termasuk orang yang pelit memuji? Tentu saja pujian harus diberikan dengan tulus, tidak pura-pura, tidak sekadar mengambil hati.

Lebih dari itu, bagaimana relasi kita dengan Tuhan? Apakah selama ini kita hanya meminta ini dan itu, dan jarang atau bahkan lupa memuji Tuhan?

Marilah kita belajar dari Pemazmur yang dengan tulus memuji Tuhan, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil.” “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.” “Biarlah segala yang bernapas memuji Tuhan!” —Liana Poedjihastuti

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 9/10/2012 (diedit sedikit)

==========

27 September 2012

Ilmu Penyembuh Jiwa

Dr. Paul Tournier, seorang dokter jiwa di Jenewa, Swiss, menjadi sangat terkenal dengan cara-cara penyembuhannya, sehingga banyak dokter muda datang belajar kepadanya.

Dengan rendah hati dia mengatakan. “Agak memalukan bagi para murid itu untuk datang dan belajar dari saya, dan mereka akan pulang dengan kecewa. Yang saya lakukan terhadap pasien-pasien saya hanyalah menerima mereka apa adanya.”

Mungkin itulah satu-satunya hal yang paling penting untuk ilmu penyembuhan jiwa.

(Dr. Paul Tournier)

Dalam hubungan sosial kita, baik di kantor, pelayanan, keluarga, maupun di masyarakat, sikap menerima orang lain perlu kita kembangkan.

Dr. Thomas Gordon mengungkapkan salah satu sikap menerima orang lain adalah dengan mendengarkan orang itu tanpa sikap menghakimi, yaitu saat mereka berbicara kepada Anda, responslah dengan kata-kata: “Benarkah?” “Ya…” “Menarik sekali.” “Ceritakanlah lebih banyak lagi…” “Saya tertarik dengan pendapatmu.” “Tampaknya ini adalah sesuatu yang penting buatmu.”

Apa salahnya kita meningkatkan keterampilan untuk menerima orang lain dengan sikap-sikap di atas.

Kehidupan kita dikelilingi oleh orang-orang yang dekat dengan kita, sahabat, teman, rekan kerja, rekan pelayanan, dan masyarakat. Oleh sebab itu terimalah satu terhadap yang lain.

Marilah kita belajar menerima orang lain apa adanya dan menjadi penyembuh jiwa bagi orang-orang di sekeliling kita. —Lydia Ong

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 27/9/2012 (dipersingkat)

==========

21 September 2012

Mendengar vs Mendengarkan

Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh Tuhan. Ya, telinga diciptakan Tuhan untuk mendengar, tetapi sering kali orang malas untuk mendengarkan.

Mendengar itu suatu keadaan yang bersifat alami, terjadi begitu saja. Mendengarkan butuh kehendak dan energi. Ada kesediaan hati untuk mendengarkan, paling tidak memerhatikan kata demi kata yang keluar dari mulut, geliat kalimat yang mengalir dari bibir.

Namun tidak banyak telinga yang mendengarkan, meski ada banyak telinga bisa mendengar.


Mendengarkan itu bersifat aktif, bagian terpenting dalam membangun relasi dengan orang lain. Jadi, aktifkanlah hati Anda, bangkitkan energi Anda untuk mendengarkan saat orang lain berbicara.

Setiap orang pasti ingin didengarkan, ingin berarti bagi orang lain. Dengan mendengarkan, kita membuka diri untuk suatu tanya, perintah, nasihat, opini, teguran, keluhan, atau apa pun yang disampaikan kepada kita.

Ingatlah, dengan mendengarkan Anda bisa memenangkan hati seseorang. Bahkan disarankan agar kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.

Adakalanya keluarga, sahabat, dan orang-orang di sekitar kita tidak membutuhkan pujian atau sanjungan, mereka hanya butuh didengarkan.

Ketika anak Anda terluka hatinya, bukan nasihat yang dia butuhkan, dia hanya ingin didengarkan.

Ketika istri atau suami Anda lara hatinya, dia ingin Anda mendengarkannya.

Mendengarkan seseorang itu sama artinya dengan menunjukkan bahwa dia penting bagi Anda.

Ketika Anda ingin menegur atau mengoreksi kesalahan seseorang, dengarkanlah terlebih dahulu pembelaannya.

Kesediaan untuk mendengarkan juga berlaku dalam hubungan kita dengan Tuhan. Dengarkanlah firman-Nya untuk memenangkan hati Tuhan. —Agus Santosa

Berbuatlah lebih dari sekadar mendengar, dengarkanlah. —John Mason

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 21/9/2012 (diedit seperlunya)

Judul asli: Dengarkanlah!

==========

20 September 2012

Menabung Kebaikan

Hidup kita bergantung pada orang lain. Waktu bayi kita bergantung pada ayah dan ibu yang terbangun malam hari, ketika kita menangis atau ngompol. Usapan cinta kasihnya memberikan ketenangan.

Ketika sekolah kita bergantung pada guru yang membuka segudang ilmu untuk menjadi manusia yang melek pengetahuan dan gemar membaca.

Setelah berumah tangga, kita amat kerepotan ketika tidak ada pembantu yang menyapu, mengepel, mencuci, dan menyetrika pakaian.


Di kantor kita bergantung pada sekretaris yang membantu mengatur kegiatan dan merampungkan tugas administratif berbentuk laporan.

Di kompleks perumahan, kita bergantung pada satpam yang berpatroli menjaga keamanan dari pencuri.

Pokoknya selama kita hidup di dunia selalu bergantung pada orang lain yang memberikan sejumlah kebaikan kepada kita.

Sebaliknya kita juga sering dimintai bantuan oleh orang lain, yang diawali dengan kata maaf, apakah dapat menolong saya mengambilkan atau melakukan sesuatu. Walaupun kadang-kadang kita berpikir, orang itu bisa melakukan sendiri kok minta tolong orang lain.

Saya juga geram ketika ada anak yang dimanjakan dengan fasilitas, lalu menempatkan diri sebagai ‘raja kecil’ yang memperlakukan pembantunya seenak perut sendiri untuk melayani berbagai kebutuhannya.

Hidup adalah tindakan untuk menabung kebaikan. Berbuat baiklah selagi ada kesempatan sebagai ucapan syukur atas kebaikan Tuhan yang telah kita terima.

Itu adalah tujuan yang mulia, daripada hidup hanya untuk mengumpulkan tabungan kejelekan dan melakukan hal-hal yang tidak baik.

Daripada iri hati dan menyebarkan gosip, kasak-kusuk untuk menjegal orang lain, bukankah lebih baik menabung kebaikan?

Jadilah manusia yang produktif menyetor kebaikan, jangan konsumtif memanfaatkan orang lain untuk kepentingan kita.

Ada saatnya kita menerima kebaikan orang dan sudah saatnya kita menyebar kebaikan.

Biarlah orang yang disiram kebaikan itu merasakan secercah kebahagiaan. —Pdt. Agus Wiyanto

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 7/11/2011 (diedit seperlunya)

==========

16 September 2012

Matsushita

Tahun 1918 Konosuke Matsushita mendirikan Matsushita Electric Industrial (MEI), dengan merek yang populer seperti National dan Panasonic. Tahun 1994 perusahaan elektronik ini mencapai kejayaannya sebagai bisnis paling sukses.

Namun yang lebih menggetarkan hati adalah kepiawaian Matsushita yang berhasil memimpin MEI keluar dari masa-masa sulit.

Saat resesi 1929, pertumbuhan ekonomi Jepang anjlok. GNP turun dratis, yang berarti daya beli masyarakat menurun. Dunia bisnis panik. Saat itu General Motor di Amerika yang memiliki 92.829 pekerja terpaksa mem-PHK separuh karyawannya.

Matsushita menyikapi resesi lebih arif dengan melakukan terobosan yang manusiawi. Ia memangkas setengah kapasitas produksi MEI tetapi tidak seorang pegawai pun di-PHK. Matsushita kemudian membekali separuh karyawan produksi dengan keahlian salesmanship, jadilah mereka laskar penjual MEI door-to-door.

(Konosuke Matsushita)

Matsushita bukan pemimpin yang secara sepihak tega mengorbankan karyawannya. Ia pemimpin empatik yang memperlakukan karyawannya sebagai sahabat dan saudara sendiri.

Kearifan Matsushita mengingatkan kita pada sebuah kalimat bijak yang mengatakan: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Akhirnya, Matsushita bersama seluruh karyawan MEI selamat dari resesi 1929 dan tetap survive.

Enam belas tahun kemudian, kepedulian Matsushita terhadap semua karyawan MEI mendapatkan balasan yang manis. Ia menerima anugerah dari para karyawan yang pernah ditolongnya.

Saat itu Perang Dunia II berakhir, Jenderal McArthur menguasai Jepang, menangkap dan mengadili semua pengusaha negara itu yang terlibat dalam perang.

Konon pada tahun 1930-an, Matsushita dan para pengusaha lainnya mendapat tekanan rezim militer Jepang untuk memproduksi senjata dan logistik militer lainnya. Jadi, Matsushita pun ikut dipenjara.

Ketika serikat pekerja MEI mendengar bahwa Matsushita menjadi tawanan Jenderal McArthur atas tuduhan keterlibatan perang, sekitar 15.000 pekerja bersama keluarga mereka membubuhkan tanda tangan dalam petisi pembelaan untuk Matsushita.

Jenderal McArthur salut dan menerima petisi tersebut, kemudian membebaskan Matsushita.

Selain Matsushita, tidak seorang pun pengusaha atau pemimpin industri Jepang yang dibebaskan McArthur. Matsushita terus memimpin MEI sampai perusahaan ini menjadi raksasa elektronik dunia, dan baru pensiun tahun 1989 saat berusia 94 tahun. —Agus Santosa

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 24/1/12 (diedit seperlunya)

==========

15 September 2012

Tidak Mencari Keuntungan Diri Sendiri

Alkisah dua pria bersaudara bekerja bersama-sama mengolah ladang milik keluarga. Salah seorang dari mereka tidak menikah, sedangkan pria satunya menikah dan memiliki beberapa anak. Hasil ladang, mereka bagi sama rata.

Suatu hari yang bujangan berkata kepada dirinya sendiri, “Ah, tidak betul kami membagi hasil ladang secara sama rata, bukankah saya bujangan, kebutuhan saya tidak banyak. Saudaraku itu memiliki istri dan anak-anak.”

Maka di tengah malam dengan memanggul sekarung gandum ia mengendap-endap di halaman dan memasukkan karung gandum itu ke lumbung saudaranya.


Sementara itu pada saat yang hampir bersamaan, saudaranya berkata kepada dirinya, “Tidak betul kalau kami membagi hasil ladang secara sama rata. Bukankah aku sudah menikah dan memiliki istri yang mengurus aku serta anak-anak yang akan merawat aku di hari tua. Kasihan saudaraku itu hidup sendiri.”

Maka di tengah malam ia mengambil sekarung gandum dari lumbungnya lalu memasukkannya ke dalam lumbung saudaranya.

Selama bertahun-tahun kedua orang bersaudara itu merasa heran karena lumbung mereka tidak pernah berkurang.

Lalu terjadilah peristiwa ini, pada suatu malam di tengah kegelapan mereka bertubrukan. Rupanya mereka saling menuju ke lumbung saudaranya pada waktu yang bersamaan. Awalnya keduanya terkejut, tetapi kemudian tertawa terbahak-bahak sambil berpelukan.

Cerita William Bausch ini mungkin mengundang tawa kita juga, tetapi pasti juga rasa haru. Alangkah baik dan indahnya apabila orang-orang yang bersaudara hidup dengan rukun.

Kebanyakan yang terjadi dewasa ini adalah sebaliknya. Yang berkeluarga akan berkata, “Aku berkeluarga, mestinya aku mendapat lebih.” Sementara yang bujangan akan berkata, “Aku hidup membujang, kesepian, mestinya aku mendapat lebih. Saudaraku sudah memiliki semuanya.”

Kiranya kisah Bausch ini menginspirasi kita untuk memedulikan orang lain, karena kasih memang tidak mencari keuntungan diri sendiri. —Liana Poedjihastuti

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 25/1/12 (diedit seperlunya)

==========

10 September 2012

Kata-kata

Kata bisa setajam pedang, sepekak senapan, segelegar granat. Kata, layaknya senjata pemicu perang, biasa digunakan untuk berseteru dan memang bisa mengobarkan pertempuran.

Pernahkah Anda terluka oleh komentar yang menyakitkan hati? Seorang teman sambil tertawa mungkin bisa mencederai hati Anda dengan kata-kata tak senonoh yang bodoh.

Sebaliknya, Anda barangkali juga pernah bicara di balik punggung seseorang, menebar sindiran, kata-kata satiris yang melukai hati. Adakalanya kita menciptakan masalah demi masalah dengan menggunakan lidah jahil dan mulut yang bocor.

Lidah adalah organ tubuh yang kecil, tersembunyi dalam mulut kita, tetapi bisa cukup lentur menyeruakkan kata-kata jahat. Lidah bisa meletuskan perseteruan dalam keluarga dan permusuhan di antara sahabat.


Kita bisa bertindak bodoh, asal bicara tanpa berpikir dahulu, dan melukai perasaan orang lain. Nasihat yang tepat untuk situasi demikian adalah: Jangan bertindak bodoh, berpikirlah dahulu sebelum bicara!

Dalam kenyataannya, ada saja orang yang gemar menggunakan lidahnya untuk mencederai, menista, menindas, memfitnah, bahkan membunuh. Selalu ada orang yang dengan sengaja mencari cara-cara jahat untuk menghancurkan orang lain.

Lidah seharusnya digunakan untuk membangun kehidupan, menyerukan kata-kata damai sejahtera, melantunkan perkataan baik dan ucapan positif.

Kata-kata kita seharusnya bisa untuk membangun kehidupan orang lain. Renungkanlah sejenak, kapan terakhir kali aku memberi semangat, membesarkan hati sahabat dan keluargaku?

Marilah bertanya pada diri sendiri, apakah yang kukatakan lebih sering menguatkan atau melemahkan orang lain?

Blaise Pascal menganjurkan agar kita menggunakan perkataan yang baik. “Perkataan yang baik tidak mahal, tidak melecetkan lidah atau bibir. Walaupun tidak mahal, perkataan yang baik itu menyelesaikan banyak hal, membangkitkan sifat baik pada diri orang lain, dan menghasilkan citra diri yang sangat indah.”

Tuhan, tolonglah aku mengendalikan kata-kataku, tidak untuk menyakiti, melainkan untuk membesarkan hati orang lain. Jauhkanlah kiranya mulutku dari perkataan yang bisa menjatuhkan seseorang, urapilah mulutku agar dapat mengucapkan kata-kata yang baik. Amin. —Agus Santosa

Musuh terbesar dan sahabat terbaik Anda adalah kata-kata yang Anda ucapkan.

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 10/9/12 (diedit seperlunya)

==========

05 September 2012

Hubungan Industrial yang Sehat

Perbudakan dalam bentuk seperti yang berlaku pada zaman dahulu sudah tidak ada lagi hari ini. Tetapi, dalam bentuknya yang berbeda perbudakan masih terus ada.

Sebuah kamus bahasa Inggris kontemporer mendefinisikan perbudakan (slavery) sebagai: [1] keadaan di bawah kontrol orang lain, dan [2] bekerja dalam kondisi kerja yang sukar dengan bayaran yang sangat minim.

Kelompok orang yang paling mencerminkan definisi ini adalah para pekerja, baik mereka yang disebut “pekerja kerah putih” maupun mereka yang dinamai “pekerja kerah biru”.

Bagi mereka yang berprofesi sebagai pekerja kerah putih, bayaran biasanya bukan masalah. Situasi “perbudakan” yang dialami adalah pada kontrol orang lain atas keinginan dan tindakannya.

Dalam batas-batas tertentu kontrol perlu dan harus. Tetapi, manakala sudah sampai pada kontrol atas nurani dan nilai-nilai sehingga kerja hanya dimaknai sebatas mencari uang, materi, dan keuntungan; maka di situ manusia sedang diperbudak.

Bagi pekerja kerah biru situasinya lebih sukar daripada itu. Dalam banyak hal kendali atas hidupnya telah diambil alih oleh sang pemberi kerja. Sistem ekonomi dan ketenagakerjaan telah menempatkan mereka pada posisi yang lemah. Sementara ruang alternatif yang tersedia begitu sempit dan sukar untuk dimasuki.

Siapakah orang yang paling bertanggung jawab untuk melepaskan para “budak” ini? Pihak pertama yang harus bertanggung jawab adalah mereka yang memiliki para budak itu. Mereka adalah orang-orang yang pada masa kini merupakan pemilik usaha dan pemberi kerja.

Apa yang harus mereka lakukan? Hal yang terpenting adalah perubahan relasi antara pemberi kerja dan pekerja. Jika semula bersifat kepemilikan di mana pengusaha merasa pekerja adalah miliknya, sehingga bisa diperlakukan sesukanya karena dibayar, kini tidak boleh lagi begitu.

Pengusaha harus memberi “kemerdekaan” kepada pekerja untuk menginginkan sesuatu, mencita-citakan sesuatu, dan berbuat sesuatu sesuai pilihannya.

Lebih dari itu, juga berarti menempatkan pekerja sejajar — dalam harkat dan martabat — dengan pemberi kerja. Itu berarti dalam relasi dengan pekerja, pemberi kerja harus berangkat dari keyakinan bahwa antara pekerja dan dirinya tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Pengusaha dan pekerja keduanya sama-sama setara.

Selanjutnya, selain dipandang dan diperlakukan sederajat, pengusaha atau majikan perlu memberdayakan pekerjanya supaya mereka mampu bersikap dan bertindak sebagai mitra yang sederajat.

Tentu ini membutuhkan investasi ke dalam diri pekerja. Mengeluarkan kapital atau modal. Sebagian orang berpikir itu rugi. Bukankah hal itu adalah tanggung jawab pekerja sendiri?

Sekilas rugi. Betul. Namun, pengusaha dan majikan yang mengutamakan kesejahteraan pekerjanya akan mendapati bahwa usaha mereka diberkati Tuhan secara luar biasa. —Pdt. Markus Dominggus Lere Dawa

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 5/9/12 (diedit seperlunya)

Judul asli: Memerdekakan Para Pekerja

==========

23 Agustus 2012

Mendengarkan Orang Lain

Pernahkah Anda merasa enggan sekali bertemu dengan orang lain? Kita semua tentu pernah merasakannya, terutama ketika harus menghadapi orang-orang yang menurut kita menjengkelkan dan kurang menghargai kita.

Apalagi jika kita pernah terlibat konflik dengan orang-orang itu. Pada situasi seperti itu, mungkin kita lebih suka menyendiri dan mengerjakan hal-hal yang kita sukai.

Meskipun adakalanya kita butuh waktu untuk sendirian, kita perlu berhati-hati terhadap kecenderungan menarik diri dari pergaulan. Kenapa?

Orang yang menyendiri cenderung memikirkan dirinya semata. Orang lain menjadi gangguan baginya. Kritik dan nasihat, yang bijak sekalipun, ditanggapi dengan kemarahan. Mereka lebih suka berdebat dan mengungkapkan kejengkelannya daripada mendengarkan orang lain.

Perilaku demikian bukanlah tindakan yang bijak. Sebaliknya, orang yang bijak adalah orang yang bersedia mendengarkan kata-kata hikmat (kata-kata yang memberi pengertian), sekalipun adakalanya hal itu dinyatakan dalam bentuk teguran yang pedas. Mendengarkan orang lain juga melatih kita untuk bersikap rendah hati.

Ketika kita mendengarkan kata-kata orang lain yang tidak kita sukai, usahakan agar tidak serta-merta (langsung) membantahnya. Sebaliknya, dengarkan lebih banyak apa yang ingin dikatakan oleh lawan bicara kita.

Bukalah hati lebar-lebar, renungkan apa yang kita dengar. Kita akan kagum mengalami bagaimana melalui beragam orang di sekitar kita, Tuhan menolong kita memperoleh pengetahuan untuk hidup lebih baik. --HEM

Marah sebelum mendengarkan menutup pintu pengertian. Mendengarkan pertimbangan orang lain membuka pintu kebijaksanaan.

* * *

Sumber: e-RH, 23/8/12 (diedit seperlunya)

Judul asli: Mendengarkan Pertimbangan

==========

21 Agustus 2012

Tri Hita Karana

Berita di TV tentang terjadinya tanah longsor dengan jumlah korban jiwa dan materi seharusnya bisa mengingatkan kita untuk lebih berhati-hati ketika memilih lokasi permukiman agar kita dan orang lain selamat dari bencana semacam itu.

Memang merupakan lingkaran setan kalau kita berbicara tentang kepadatan penduduk dan makin kurangnya lahan untuk perumahan, sehingga orang tidak berpikir panjang lagi tentang tanah tempat mereka akan membangun rumah.

Seorang teman dari Bali heran melihat tatanan lokasi perumahan di daerah yang padat di Kota Ambon. Dia bertanya, “Bagaimana mereka bisa bernapas, ya?”

Di Bali orang membangun rumah selalu memerhatikan ajaran agama yaitu Tri Hita Karana, artinya selalu ada halaman di sekeliling rumah. Halaman depan untuk memelihara hubungan dengan alam (palemahan), di kanan kiri untuk memelihara hubungan dengan tetangga (pawongan), dan di belakang rumah tempat mereka biasa berdoa dan memuja Sang Pencipta (parahyangan).

Aturan membangun rumah dengan memerhatikan keselamatan orang lain dan diri sendiri sudah ada sejak zaman dahulu. Kita manusia di abad ilmu pengetahuan dan teknologi canggih ini malah melupakan hal sederhana itu, yang justru diperhatikan oleh nenek moyang kita yang hidupnya sangat sederhana.

Apakah karena kebutuhan atau memang kita kurang memerhatikan hidup saling mengasihi dan memerhatikan sesama?

Seperti orang Bali yang mematuhi Tri Hita Karana, kita juga memerhatikan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. —Irene Talakua

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 21/8/12 (diedit seperlunya)

==========

18 Agustus 2012

Keramahan yang Tulus

Banyak bangsa mengedepankan keramahan sebagai nilai lebih di mata bangsa lain. Bangsa Indonesia pun demikian. Namun, kadangkala upaya ini membuat keramahan tak lagi muncul dari hati.

Misalnya saja, saat kita mengunjungi bank, kita menerima sapaan pegawai atau petugas keamanannya. Kata-kata sapaannya tertata dan seragam, tetapi ‘tanpa rasa’ dan ‘tak kontak’ dengan yang disapa. Mimik wajah dan bahasa tubuh terlihat tak alamiah. Hasil latihan.

Sebaliknya, sekalipun mungkin bukan dengan bahasa "sekolahan", di toko-toko kelontong kecil ataupun di pasar, kita sering lebih merasa hangat disambut. Keramahan yang muncul karena tugas atau dari hati, dapat dirasakan bedanya.

Keramahan bagi sebagian orang butuh pembiasaan. Dalam suasana Idul Fitri ini, bagaimanakah kita dapat menunjukkan keramahan kepada kerabat, handai taulan, tetangga, mitra usaha, atau pun rekan sejawat yang merayakannya?

Nyatakanlah keramahan dengan kata-kata yang meluap dari hati.

* * *

Sumber: e-RH, 18/8/12 (dipersingkat)

Judul asli: Keramahan dari Hati

==========

16 Agustus 2012

Melupakan Kesalahan

Seorang lelaki setengah baya dimintai tolong istrinya untuk menjaga kasur yang dijemur di halaman: kasur agar segera dimasukkan ke dalam rumah kalau hujan turun. Maklum saat itu cuaca tidak menentu, meski siang hari panas, tiba-tiba langit bisa berawan dan turun hujan.

Agar tidak lupa, suami yang baik hati itu menggelar kursi di samping kasur, ia membaca buku sambil menjaga kasur yang dijemur. Nah, petaka pun terjadi. Saat asyik membaca, tiba-tiba hujan turun, spontan ia bergegas untuk berteduh.

Ia segera masuk ke dalam rumah, melupakan kasur yang dijemur. Sesaat setelah hujan reda, ia baru ingat, kasur itu ia tinggal begitu saja di halaman. Ah, kasur itu sudah basah kuyup...

Lupa, bisa terjadi karena kita abai atau tidak memberi perhatian. Ada begitu banyak peristiwa yang tidak mendapatkan perhatian kita, Anda dan saya melupakannya. Ada banyak momentum tergerus waktu, bahkan sejak awal sudah diabaikan. Ada banyak peristiwa dan nama yang tidak masuk dalam memori, terlupakan atau dilupakan.

Tentang lupa ini, saya teringat kata-kata bijak sahabat saya, Dr. Pradjarta Dirdjosanjoto, direktur Lembaga Percik Salatiga. Ia pernah mengatakan bahwa lupa itu patut disyukuri. Seandainya kita tidak lupa dan mengingat semua peristiwa, masalah demi masalah selalu terpatri dalam ingatan kita, alangkah tersiksanya kita.

Ya, kita tidak akan bisa melupakan kesalahan orang lain, hal-hal yang menyakitkan selalu kita ingat, memadati hati dan pikiran kita, menutup pintu pengampunan. Kita tidak bisa mengampuni kesalahan orang lain karena kita senantiasa distimulasi oleh perkara yang serba menyakitkan, pahit getir, pedih lara, marah, benci, dan dendam.

Alangkah damai hati kita yang bisa melupakan kesalahan orang lain. Namun tidak selalu demikian, adakalanya luka meninggalkan bekas, seakan menjadi “grafiti” yang menggambarkan bahwa sakit itu belum dan takkan sembuh. Kita tetap terluka karena yang menyakitkan itu selalu menjadi fokus hati.

Luka itu semakin dalam karena menjadi pijakan kebencian, meletupkan amarah dan dendam. Hati yang terluka akan menahan kemampuan kita untuk mengampuni, serta membentengi orang lain untuk meminta maaf.

Kita mungkin menyimpan kesalahan orang lain yang tidak disengaja atau memang dirancang untuk menyerang kita. Itu membuat hati terluka, kita tersiksa karena sakit hati. Tidak ada pemberesan, amarah tetap kita gantung, kata maaf tidak pernah kita dengar. Kesalahan itu bak bakteri jahat yang berkembang subur di dalam diri kita.

Hari ini adalah saatnya kita memutuskan untuk melupakan kesalahan orang lain, kesalahan yang lambat laun bisa menggiring kita menjadi jahat. Inilah saatnya kita lebih memusatkan hati pada kemurahan dan kasih Tuhan.

Kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain. Jadi, jangan lagi menyimpan kesalahan orang lain. Lupakanlah kesalahan itu, jangan lagi menjadi fokus hati kita.

Bebaskanlah diri kita dari belenggu sakit hati, niscaya dengan kasih karunia Tuhan, kita bisa merahmati orang lain melalui pengampunan. —Agus Santosa

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 16/8/12 (diedit seperlunya)

Judul asli: Lupakanlah!

==========

09 Agustus 2012

Hancur bersama Musuh?

Sekawanan lebah mengerubuti seekor ular. Sengatan demi sengatan menghunjam kepala licin si ular. Ular terluka, sakit, marah, dan bernafsu untuk membalas.

Ular yang konon cerdik itu meletakkan kepalanya di atas rel kereta api dengan niat ingin membunuh kawanan lebah. Kereta api lewat, dalam sekejap ular dan para lebah tergilas roda besi, mereka mati semua.

Fabel yang ditulis Aesop ini mengingatkan perilaku sebagian besar orang ketika disakiti atau dilukai. Kita secara manusiawi ingin membalas perlakuan orang lain dengan berseteru, yang akhirnya semakin melukai diri sendiri.

Kita bisa dilukai orang lain tanpa pernah berbuat salah. Jangan berpikir karena kita vegetarian, maka seekor banteng tidak akan menyerang kita.

Ketika keberadaan kita dinilai sebagai ancaman, yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, itu sudah cukup untuk mengubah peta persahabatan menjadi medan perang.

Anda bisa saja dimusuhi seseorang tanpa pernah memusuhi. Bisa saja musuh Anda justru sahabat terbaik, dan semua itu sangat menyakitkan hati. Lalu apa yang Anda lakukan, bertarung membalas sakit hati?

Saya teringat cerita di balik aksara Jawa. Konon ada dua orang abdi yang setia (ha na ca ra ka). Keduanya terlibat perselisihan dan akhirnya berkelahi (da ta sa wa la). Mereka berdua sama kuat dan tangguh (pa da ja ya nya), dan akhirnya kedua abdi itu tewas bersama (ma ga ba tha nga).

Ketika dua orang abdi bertarung sampai mati, dan seekor ular menggilaskan kepalanya pada rel kereta api, itu adalah keputusan fatal akibat dirasuk amarah dan dendam.

Ketika disakiti, sungguh manusiawi jika kita bergumul ingin membalas. Namun, apakah kita pernah bertanya bahwa itu akan menyelesaikan masalah, lebih baik dari cara Tuhan?

Tuhan punya cara terbaik membebaskan kita dari masalah ini, yakni “mengampuni” seperti Ia mengampuni kesalahan kita. Tuhan tahu siapa Anda dan saya. Ia tidak ingin kita menuntut balas, karena akan membutakan mata rohani, melemahkan jiwa dan tubuh kita.

Ya, jika Anda telah dilukai seseorang, singkirkanlah keinginan membalas dan percayalah Tuhan akan menyelesaikan masalah Anda. Jangan berbuat seperti si ular. Jangan memilih ma ga ba tha nga, hancur bersama musuh Anda. —Agus Santosa

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 9/8/12 (dipersingkat)

Judul asli: Ma ga ba tha nga

==========


Artikel Terbaru Blog Ini