07 Mei 2013

Bukan Sekadar Kata

Joyce Meyer, penulis dan pengkhotbah televisi, suatu saat bersama suaminya, Dave, mengunjungi restoran favorit mereka.

Setelah memesan menu, seorang pelayan membawa baki berisi pesanan mereka. Tanpa disengaja baki itu tumpah dan isinya menimpa Dave yang saat itu mengenakan jas kesukaannya.

Dave yang sial itu tersenyum sambil berkata, "Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja."

Joyce turut membantu membereskan makanan dan minuman yang berceceran di lantai dan di tubuh Dave sambil tetap bersikap ramah. Bukan hanya itu, mereka berdua menemui pemilik restoran, meminta agar ia tidak memecat pelayan yang baru saja bertindak ceroboh itu.

Joyce Meyer

Melihat tanggapan Joyce dan suaminya, pelayan itu membungkuk untuk meminta maaf dan berkata, "Saya sungguh-sungguh minta maaf. Saya baru bekerja di sini. Saya gugup dan merasa seperti bermimpi ketika bertemu langsung dengan Ibu. Saya selalu mengikuti khotbah Ibu di televisi setiap hari."

Ya, kira-kira apa yang akan terjadi seandainya Joyce dan suaminya bersikap sebaliknya? Tak ayal semua khotbahnya yang pernah didengar pelayan itu melalui televisi akan menjadi sia-sia. Dan, pelayan itu akan mengingat Joyce sebagai seorang pengkhotbah yang munafik.

Kadang-kadang Tuhan menguji integritas dan bobot perkataan kita melalui peristiwa yang tidak disangka-sangka. Tanggapan kita terhadap peristiwa itu menunjukkan kualitas karakter kita yang sesungguhnya.

Karena itu, hendaklah kita melakukan segala sesuatu dengan mata yang tertuju kepada Tuhan. Kiranya kita tidak terpeleset ke dalam sikap yang memalukan.

Sikap dan perilaku kita adalah ilustrasi khotbah yang paling efektif.

* * *

Penulis: Piter Randan Bua | e-RH, 7/5/2013

(diedit seperlunya)

==========

21 April 2013

Ibu yang Iri

Pernahkah Anda merasa kurang beruntung dibanding orang lain? Anda sepertinya selalu ditimpa kesusahan, sedangkan teman-teman Anda tampak bahagia, makmur, dan mapan?

Lalu, apakah ketidakpuasan itu membangkitkan sikap permusuhan di dalam hati Anda? Anda menjadi tidak suka pada orang-orang di sekeliling Anda? Atau, lebih parah lagi, Anda ingin merampas kebahagiaan orang yang lebih beruntung itu?

Rasa tidak suka melihat orang lain yang lebih beruntung adalah kecenderungan manusia. Salomo mengenalinya melalui hikmat yang dikaruniakan Tuhan kepadanya ketika ia menghadapi dua orang ibu yang memperebutkan anak (1 Raja-raja 3:16-28).

Oleh hikmat itu, ia dapat mengambil keputusan yang tepat. Mula-mula dengan cerdik ia menawarkan solusi yang tak terduga, yaitu hendak membagi si bayi menjadi dua. Artinya, bayi yang masih hidup itu akan mati juga.


Ternyata, ibu yang anaknya meninggal merasa senang. Rupanya ia menginginkan temannya juga sengsara seperti dirinya. Melihat reaksi tersebut, Salomo segera mengetahui siapakah ibu sejati dari bayi tersebut.

Ketika melihat orang lain lebih beruntung, kita perlu berhati-hati. Waspadailah pikiran dan reaksi kita. Periksalah, apakah rencana kita masih selaras dengan kehendak Tuhan. Atau, jangan-jangan apa yang hendak kita lakukan sebenarnya berlawanan dengan kehendak-Nya.

Tuhan mengetahui secara persis pikiran dan rencana kita. Bila ada pikiran yang tidak patut dan rencana yang kurang baik, mintalah belas kasihan dari-Nya untuk mengubah sikap kita.

Ketika kita merasa puas dengan kebaikan Tuhan, kita tidak akan iri saat melihat keberuntungan orang lain.

* * *

Penulis: Heman Elia | e-RH, 21/4/2013

(diedit seperlunya)

==========

27 Maret 2013

Bantuan Sang Panglima

Suatu ketika beberapa tentara Amerika bersusah payah memindahkan sebatang pohon besar yang menghalangi jalan. Di dekat mereka, seorang kopral hanya berdiri sambil mengomel.

Seorang penunggang kuda yang lewat melihatnya. Ia bertanya, mengapa sang kopral tak membantu anak buahnya. Kopral itu menjawab, "Aku ini kopral, yang berhak memberi perintah."

Tanpa berkomentar, si penunggang kuda turun dan membantu para tentara tadi sampai berhasil. Lalu, sambil naik kuda lagi, ia berkata, "Kalau anak buahmu butuh bantuan lagi, panggil saja panglima perangmu. Ia akan datang."

Seketika si kopral sadar bahwa penunggang kuda tadi tidak lain adalah George Washington, panglima perang Amerika saat itu (dan nantinya menjadi presiden negara tersebut).

George Washington

Menjelang penangkapan-Nya, Yesus menyampaikan pesan yang mengusik. Dia melepaskan jubah, mengambil kain lenan, dan mengikatkannya di pinggang. Lalu, Dia berlutut dan mencuci kaki para murid.

Para murid bahkan belum pernah melakukan hal itu di antara mereka sendiri. Namun, Guru, Tuhan, dan Raja mereka tidak segan-segan melayani. Pesan-Nya jelas: Dia menginginkan para pengikut-Nya saling melayani.

Yesus mencuci kaki para murid

Betapa baiknya bila kita tak membiarkan diri merasa "lebih hebat" dari orang lain. Juga lebih sedikit berharap untuk dilayani. Lalu, mulai lebih banyak berpikir bagaimana dan apa saja yang bisa kita lakukan untuk melayani sesama.

Siapa pun itu. Bahkan orang-orang yang kita anggap tidak patut dilayani. Mari kita menularkan semangat untuk saling melayani ini.

Ketika Yesus meraja di hati, pasti meluap hasrat untuk melayani.

* * *

Penulis: Agustina Wijayani | e-RH, 27/3/2013

(diedit seperlunya)

==========

21 Maret 2013

Butuh Dua Orang

"Selalu dibutuhkan dua orang untuk bertengkar", demikian kata sebuah pepatah lama. Benar, ketika ada dua pihak yang sama-sama berniat memperebutkan 'kemenangan pribadi', maka pertengkaran pun 'sukses' diciptakan.

Padahal, jika salah seorang bisa sadar untuk berhenti memusatkan perhatian pada masalah dan mengarah pada pencarian solusi, maka pertengkaran takkan berpanjang umur. Sebuah fakta yang kerap 'tertutup' saat dua orang terlibat adu argumentasi atau perselisihan.

Dalam Perjanjian Lama terdapat kisah, para gembala ternak Abraham dan Lot juga pernah bertengkar dan berkelahi karena rumput dan air untuk menggembala tidak cukup bagi mereka. Maka, masalah itu dilaporkan kepada Lot dan Abraham.

Sangat wajar seandainya mereka 'meneruskan' pertengkaran tersebut, sebab masing-masing merasa punya hak yang patut dipertahankan.

Abraham dan Lot

Syukurlah, Abraham mampu mengendalikan dirinya dan melihat bahwa kekerabatannya dengan Lot-lah yang harus dipertahankan. Itu sebabnya ia memilih untuk segera menghentikan pertengkaran dengan cara mengalah.

Kita belajar dari Abraham bahwa saat hamba-hambanya bertengkar, Abraham tak berpikir pesimistis, "Ah, mungkin hubunganku dengan Lot harus berakhir di sini."

Sebaliknya, ia melihat bahwa Lot tetaplah kerabatnya sampai kapan pun. Itu sebabnya ia menujukan pikirannya pada "apa yang bisa dilakukan supaya hubungannya dengan Lot tak sampai terputus".

Maka, keputusan dan tindakannya bukan lagi didasarkan pada emosi sesaat, melainkan pada kebijaksanaan yang bermanfaat.

Kiranya Tuhan memberi kita hikmat seperti ini, ketika sebuah pertengkaran diperhadapkan pada kita. —AW

Ketika bertengkar, jangan berpikir mengakhiri hubungan. Pikirkan segala cara untuk mempertahankan hubungan.

* * *

Sumber: e-RH, 15/6/2011 (diedit seperlunya)

==========

26 Februari 2013

Totalitas Seorang Guru

Ibu Merry mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Bhakti Luhur, Malang, sejak 1984. Suatu saat ia mendapatkan seorang murid bernama Jorei – anak yang bisu, tuli, dan low vision (berkemampuan melihat rendah).

Awalnya Jorei tidak mau belajar. Ibu Merry tak kehabisan akal. Bila keadaan gelap Jorei mudah mengantuk, maka Bu Merry menyalakan lampu seterang-terangnya saat anak itu belajar.

Anak-anak SLB juga sulit berkonsentrasi, maka Bu Merry membuat banyak alat peraga yang merangsang muridnya untuk belajar. Sebuah totalitas pengabdian yang mengagumkan.

Sekolah Luar Biasa (SLB) Bhakti Luhur, Malang

Hubungan kita dengan Tuhan adalah landasan bagi hubungan kita dengan sesama. Ketika kita melakukan sesuatu bagi sesama, sesungguhnya kita sedang melakukannya bagi Tuhan, yang menciptakan kita semua.

Kesadaran ini menggugah dedikasi dan etos kerja yang luar biasa. Orang tergerak untuk bekerja dengan segenap hati, bukan sekadar mengejar keuntungan materiil, melainkan sungguh-sungguh mengupayakan kesejahteraan orang lain.

Orang bersedia untuk bekerja secara ekstra, melampaui tuntutan tugas, agar kehidupan sesamanya dapat menjadi lebih baik. Dan, ia memperoleh kepuasan sedalam-dalamnya dengan menyadari bahwa ia mengerjakan semuanya itu sebagai ungkapan syukur atas anugerah Tuhan.

Apakah kita melihat kehadiran Tuhan di balik setiap orang yang berinteraksi dengan kita? Apakah kita bekerja demi memberikan manfaat pada sesama? Apakah kita menilai sukses dari kepuasan dalam mensyukuri anugerah-Nya? —Sidik Nugroho

Ketika kita bekerja dengan segenap hati seperti bagi Tuhan, kita menemukan kepuasan hati yang sedalam-dalamnya.

* * *

Sumber: e-RH, 26/2/2013 (diedit seperlunya)

==========

19 Februari 2013

Meminta Kejelasan

"Bu, kurasa kita perlu mulai diet," kata Pak Agung. Bu Agung mencibir sambil berpikir, "Ia menganggap aku semakin gemuk dan jelek."

Pada hari lain Bu Agung —dengan niat menghindarkan suaminya dari kena tilang— berkata, "Mbok ya jangan ngebut kalau nyetir." Pak Agung merengut, pikirnya, "Huh, selalu saja ia menganggap aku ini ugal-ugalan."

Apabila pola komunikasi semacam itu dibiarkan berlarut-larut, Anda bisa membayangkan bagaimana kondisi rumah tangga Pak Agung.


Ketidakjelasan dan kesalahpahaman dalam berkomunikasi dapat menimbulkan luka emosional. Komunikasi yang seharusnya menjadi jembatan penghubung antarmanusia, justru berdiri tegak menjadi tembok pembatas.

Kita didorong untuk mengutamakan kejelasan dalam berkomunikasi, seperti disarankan oleh Salomo (Nabi Sulaiman) berikut ini: “Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.” ~Salomo (Amsal 18:13)

Jangan buru-buru menanggapi suatu pesan sebelum kita menyimak dan memahami benar maksudnya. Tanggapan yang sembrono hanya menimbulkan masalah.

Apabila kita ragu-ragu atau tidak mengerti saat menerima pesan, jangan sungkan untuk meminta kejelasan. Metode ini disebut sebagai mendengarkan secara reflektif.

Mendengarkan bukan sekadar berdiam diri ketika mitra kita berbicara, melainkan menyimak baik-baik untuk memahami maksudnya. Untuk memastikan, ulangi apa yang diucapkan orang itu, dan berilah ia kesempatan untuk menjelaskan.

Bu Agung, misalnya, bisa bertanya baik-baik, "Bapak mengajak Ibu berdiet, ya?" Lalu, biarkan Pak Agung menjelaskan apa maksudnya, dan kemudian Bu Agung dapat menanggapi dengan semestinya. Komunikasi yang jelas pun dapat terlaksana. —ARS

Komunikasi yang efektif baru terlaksana ketika kita menanggapi dengan benar pesan yang disampaikan.

* * *

Sumber: eRH, 4/5/2011 (diedit seperlunya)

==========

17 Februari 2013

Membiarkan Tergeletak

Yue Yue, gadis cilik berumur 2 tahun, tergeletak di jalan karena ditabrak sebuah mobil van di Foshan, Guang Dong, China. Banyak orang —mulai dari yang berjalan kaki, yang bersepeda, sampai yang bermobil— melewatinya.

Akan tetapi, mereka berlalu begitu saja, membiarkannya terkapar bersimbah darah, sampai sebuah truk melindasnya kembali.

Yue Yue sebelum dan sesudah tertabrak mobil.

Peristiwa tertabraknya Yue Yue.

Kejadian ini merupakan salah satu potret pedih, betapa semakin tipisnya kepedulian sosial di dunia ini. Ya, bukan hanya di China, di berbagai belahan bumi lain pun kita kerap diperhadapkan pada sikap acuh tak acuh yang memilukan seperti itu.

Firman Tuhan sudah memperingatkan akan datangnya masa-masa seperti ini. Masa ketika manusia lebih mencintai dirinya sendiri dan ketika kasih manusia terhadap sesamanya semakin dingin.

Banyak orang semakin menggebu-gebu mengejar kesuksesan dan ambisi pribadinya, sehingga akhirnya menjadi hamba uang. Hanya keuntungan materiil yang diperhitungkan, termasuk dalam hubungan dengan sesama.

Tidak sedikit pula yang rajin beribadah, namun mengingkari hakikat ibadah itu sendiri, karena tidak menjadi pelaku firman.

Kondisi itu semakin hari akan semakin intensif belaka. Namun, orang percaya semestinya tidak terhanyut oleh kecenderungan tersebut. Tuhan menghendaki umat-Nya hidup dengan sikap yang berbeda dari dunia.

Kita berperan untuk menyatakan kasih kepedulian-Nya kepada orang-orang di sekitar kita, khususnya mereka yang telantar dan tersisih. —Susanto

Dunia dapat merasakan kasih Tuhan yang tidak kelihatan melalui karya dan pelayanan umat-Nya yang kelihatan.

* * *

Sumber: e-RH, 17/2/2013 (diedit seperlunya)

Judul asli: Membiarkan Yue Yue

==========

30 Januari 2013

Kenapa Enggan Berbagi?

Seorang petani lele yang lumayan sukses di Kalasan, Yogyakarta, tidak segan-segan membagikan ilmunya kepada petani-petani lain yang berminat menekuni budidaya ikan air tawar tersebut. Ia tidak khawatir kelak mereka akan menjadi pesaingnya.

"Kenapa mesti enggan berbagi ilmu dan keterampilan?" katanya. "Kalaupun kita sudah membagikannya, belum tentu juga orang bisa menirunya begitu saja. Dengan berbagi, kita sendiri akan mendapatkan lebih banyak masukan. Kita malah jadi semakin pintar."


Ya, memberi tidak akan membuat kita kekurangan. Sebaliknya, memberi justru menjadikan sumber daya kita berlipat ganda. Apa yang kita berikan tidak akan hilang sia-sia, melainkan akan dikembalikan kepada kita dalam kadar yang berlimpah-limpah.

Ini prinsip yang berlawanan dengan yang dijalankan dalam dunia bisnis. Pebisnis didorong untuk mengeluarkan biaya sekecil mungkin demi meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Prinsip bisnis semacam ini membangkitkan keserakahan, sedangkan belajar memberi mengembangkan kemurahan hati kita.

Kita masing-masing pasti memiliki sesuatu yang baik —uang, talenta, waktu, tenaga, senyuman, pengampunan— untuk dibagikan kepada orang yang memerlukan.

Kita tidak akan selalu menerima balasan dalam bentuk yang sama persis, namun tak ayal (tak perlu diragukan) kita akan mengalami berkat yang mendatangkan damai sejahtera.

Jadi, perhatikanlah apa saja yang Anda miliki dan dapat Anda daya gunakan untuk memberkati sesama, seperti petani lele tadi. Kenapa enggan berbagi? —Arie Saptaji

Orang miskin adalah orang yang tidak memiliki apa-apa untuk dibagikan kepada sesamanya.

* * *

Sumber: e-RH, 30/1/2013 (diedit seperlunya)

==========

24 Januari 2013

Langsung Marah

Seorang ibu begitu murka ketika anak gadisnya pulang terlambat. Tanpa banyak bertanya dan tidak memberi kesempatan kepada putrinya untuk menjelaskan, si ibu langsung memuntahkan kalimat-kalimat yang tidak senonoh dan bernada menghakimi.

Padahal, keterlambatan putrinya terjadi secara tak sengaja: ban motornya kempis di tengah jalan, dan ia harus menuntun motor cukup jauh sebelum menemukan tukang tambal ban.

Selain itu, batere telepon genggamnya habis sehingga ia tidak dapat memberi tahu ibunya.


Kita kadang-kadang membiarkan prasangka atau kemarahan menguasai diri kita sehingga kita tidak dapat menanggapi situasi dengan semestinya. Kita tidak meluangkan waktu untuk mendengarkan penjelasan orang lain dan secara gegabah melontarkan tuduhan.

Ledakan amarah yang membabi buta menyebabkan kita menyemburkan perkataan yang tidak pantas dan meninggalkan luka yang mendalam di hati orang yang kita hakimi. Singkatnya, amarah yang tak terkendali menghancurkan hubungan yang baik.

Apa yang tampak oleh mata kita belum tentu mengungkapkan seluruh keadaan secara lengkap. Oleh sebab itu, sudah semestinya kita memberikan kesempatan kepada orang lain menjelaskan duduk perkaranya.

Kesediaan untuk mendengarkan ini menolong kita untuk mengendalikan amarah. Sebaliknya, kita memiliki waktu untuk mempertimbangkan perkara secara lebih jernih sehingga dapat mengambil keputusan yang lebih adil.

Dengan itu, kita juga menghormati orang tersebut dan menghargai hubungan dengannya. —Riris Ernaeni

Lebih baik memberikan sepasang telinga yang mau mendengarkan daripada mencecarkan seribu nasihat yang menghakimi.

* * *

Sumber: e-RH, 24/1/2013 (diedit seperlunya)

==========

16 Januari 2013

Bubuk Kepahitan

Seorang guru hendak mengajarkan sesuatu kepada muridnya. Ia memberikan segenggam tepung biji mahoni untuk dimasukkan ke dalam sebuah cangkir berisi air, lalu menyuruh anak itu meminumnya. Sang murid segera memuntahkan air itu karena tak tahan mencecap rasa pahit yang luar biasa.

Kemudian guru itu kembali memberinya segenggam tepung biji mahoni, kali ini untuk dituangkan ke dalam sebuah telaga bening. Ia menyuruh anak itu mengambil airnya dan meminumnya. Kali ini si murid dapat menikmati air itu, yang tetap terasa tawar dan menyegarkan.

biji mahoni

"Tepung biji mahoni itu mewakili semua hal buruk dan kepahitan dalam hidup ini. Yang menentukan pengaruhnya adalah seberapa besar wadah yang menampungnya, yaitu hati kita!" kata sang guru yang bijak.

Sebagai orang percaya kita didorong agar tetap bertekun dalam iman, sekalipun banyak kesukaran menghadang dari berbagai sisi, termasuk dari sesama orang percaya.

Mengikut Tuhan memang tidak menjamin seseorang terbebas dari masalah, bahkan tak jarang menjadikan kehidupan kita kian pelik.

Syukurlah, orang percaya telah diberi hati yang baru. Anugerah-Nya memampukan kita untuk menawarkan rasa "bubuk kepahitan" sehingga hati kita tetap manis dan segar.

Apakah Anda bergumul untuk mengampuni orang lain? Apakah Anda mengalami kesulitan berdamai dengan seseorang? Apakah organisasi keagamaan di mana Anda bernaung mengecewakan Anda?

Lihatlah anugerah-Nya, bagaimana Dia mengasihi dan mengampuni Anda tanpa syarat. Maka ampunilah mereka yang bersalah kepada Anda. —Hembang Tambun

Kepahitan bukan ditentukan oleh apa yang kita alami, melainkan oleh respons hati kita terhadap pengalaman itu.

* * *

Sumber: e-RH, 16/1/2013 (diedit seperlunya)

==========

13 Januari 2013

Bahasa Kasih

Seorang teman saya yang bersuamikan seorang dokter memberi komentar tentang pekerjaan suaminya, Kris. “Pasien Kris banyak dan dia melayani setiap pasiennya paling cepat setengah jam, tapi lebih banyak dari mereka yang konsultasi dan minta nasihat. Dia lebih tepat jadi konselor daripada dokter umum.”

Kris adalah pendengar yang baik, sangat ramah dan bersahabat, sabar, orang senang berkomunikasi dengan dia. Jadi di samping mengobati penyakit, dia juga mengobati hati dan jiwa pasiennya. Kata orang penyakit juga sering disebabkan oleh pikiran kita, banyak masalah, kecemasan, atau rasa khawatir yang berlebihan.

Saya jadi teringat seseorang yang sangat saya kagumi, Dada J.P. Vasmani, seorang filsuf India dan pengkhotbah tentang perdamaian. Wajah dan senyumnya memancarkan kelembutan, damai, dan kasih. Ia begitu ramah dan sederhana, orang yang mendengar dia berbicara mendapatkan kembali rasa percaya dirinya, memperolah kekuatan dan ketegaran, walaupun sedang menghadapi masalah dan cobaan.

Menjalin suatu komunikasi yang didasarkan atas bahasa kasih adalah sangat penting. Apa pun pekerjaan kita, mungkin yang paling penting adalah bagaimana perkataan kita bisa membantu orang lain berbahagia dan merasakan kasih yang memberikan kekuatan untuk menjalani hidup ini.


Firman Tuhan berkata: “Kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.” Kita lahir dari kasih dan kita hidup karena kasih, dan sebagai orang yang dikasihi Tuhan, kita pun harus menebarkan kasih itu untuk orang lain melalui perbuatan, perkataan, juga senyum kita.

Salomo (Nabi Sulaiman) mengajarkan kepada kita bagaimana menggunakan lidah kita, karena perkataan yang kita pakai mempunyai kekuatan untuk melukai atau menyembuhkan.

“Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!” ~Salomo

Bagaimana kita dapat menjadi berkat bagi orang lain melalui perkataan kita? —Irene Talakua

* * *

Sumber: KristusHidup.org, 13/1/2013 (diedit seperlunya)

Judul asli: Language of Love

==========

23 Desember 2012

Benih Kepercayaan

Pada pemakaman Kathryn Lawes, istri mantan sipir penjara di New York, para narapidana beramai-ramai melayat. Sejenak mereka menghirup udara bebas.

Seusai upacara, tak satu pun dari mereka berusaha kabur. Dengan patuh semua kembali ke sel masing-masing. Apa rahasianya?

Semasa hidup, Nyonya Lawes membiarkan anak-anaknya bermain dengan para narapidana itu. Ia percaya mereka akan berlaku baik kepada anak-anaknya.

Kesan dipercayai, itu yang membekas di hati para narapidana. Sehingga mereka tak mau menodai kepercayaan yang diberikan waktu diizinkan keluar untuk melayat orang yang telah memercayai mereka.

Sejumput benih kepercayaan ditanam, hasilnya tak mengecewakan. Semua orang butuh dipercayai. Besar kemungkinan kebaikan dalam dirinya tumbuh jika ia dipercayai.


Semua hubungan baik berlandasan kepercayaan. Suasana kerja yang baik dibangun di atas kepercayaan. Prestasi bertumbuh karena ada kepercayaan. Pelayanan yang berbuah memerlukan sikap saling percaya.

Sudahkah kita menanam benih percaya-memercayai dalam berkeluarga, berteman, bekerja sama, berorganisasi, bermasyarakat? Jika kita ingin dipercayai, begitu pun orang lain. —PAD

Orang yang dipercayai dengan cara yang benar akan menjadi orang yang dapat dipercaya. ~Abraham Lincoln

* * *

Sumber: e-RH, 30/3/2011 (dipersingkat)

==========

14 Desember 2012

Kepedulian Sosial

Sebuah novel Portugis berkisah tentang seorang pemuda bernama John yang mengadakan perjalanan ke India untuk mencari nafkah. Setelah beberapa tahun, ia kembali ke Lisbon dengan beberapa kapal penuh harta benda.


Timbul idenya untuk menguji para kerabat dan sahabatnya. Katanya, “Aku akan mengadakan suatu permainan.” Ia kemudian mengenakan pakaian yang sudah usang dan pergi ke rumah Peter, sepupunya.

“Peter, aku ini John, sepupumu. Tidakkah engkau mengenaliku? Setelah beberapa tahun merantau ke India, aku kini kembali. Aku sekarang sedang kebingungan di mana aku akan tinggal. Bolehkah aku tinggal di rumahmu untuk sementara waktu?”

Dengan serta merta sepupunya menjawab, “Oh John, betapa aku ingin engkau dapat menginap di rumahku. Tapi sayang, tidak ada satu ruang pun yang kosong di rumahku.”

Kemudian John menuju rumah seorang sahabatnya, dan sahabatnya yang lain, tapi di mana-mana ia mendapati pintu tertutup baginya.

Akhirnya John kembali ke kapalnya, mengenakan pakaian terbaiknya, menjelajahi kota Lisbon dengan pelayan-pelayan yang mengiringinya. Ia membeli rumah yang besar di jalan utama Kota Lisbon.

Dalam waktu singkat, berita tentang harta kekayaanya telah tersebar ke segala penjuru kota.

“Siapa sangka ia seperti sekarang keadaannya,” kata saudara dan teman-teman yang telah bersikap tidak bersahahat kepadanya.

“Coba kalau kita tahu sebelumnya, betapa berbedanya perlakuan kita kepadanya. Dan sekarang kita telah merusak kesempatan kita dengannya,” kata mereka tanpa malu.

Bukankah novel itu mengandung kebenaran dalam kenyataan hidup? Betapa ironis. Bukankah kepada mereka yang sudah kaya, terhormat, pintar, biasanya kita menaruh hormat, memberi hadiah, menyediakan pemberian atau sumbangan yang mahal dan pantas?

Tetapi, kepada yang tidak punya, “orang-orang kecil”, kita berlaku semena-mena, memberikan ala kadarnya, ditambah dengan gerutuan.

Marilah mengasah kepekaaan kita, agar di zaman yang semakin sulit ini, kita mau mengulurkan tangan bagi orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan. —Liana Poedjihastuti

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 14/12/2012 (diedit seperlunya)

Judul asli: Kristus di Tengah Kita

==========

06 Desember 2012

Saling Membutuhkan

Harian Los Angeles Times, 20 November 1988, melaporkan sebuah insiden. Seorang wanita terperangkap dalam sebuah mobil, dan menggantung pada sebuah sisi jalan tol Los Angeles Timur.

Wanita itu sungguh beruntung, karena pada akhirnya bisa diselamatkan oleh para pengemudi yang pagi itu melintas di jalan tol tersebut, bersama-sama dengan petugas pemadam kebakaran dan pengemudi truk derek, yang semuanya berjumlah dua puluh lima orang.

Mereka semua bersusah payah mengupayakan keselamatan wanita tersebut, dimulai dengan mengambil tambang dari salah satu mobil mereka, mengikat belakang mobilnya, menjulurkan sebuah tangga dari truk pemadam kebakaran untuk menstabilkan posisi mobil, dan pada akhirnya mengikatkannya pada truk derek, serta menariknya keluar dari pembatas jalan tol.

Namun sungguh lucu dan sedikit menjengkelkan dalam peristiwa itu, sebab pada saat semua orang bersusah payah berusaha untuk menolongnya, wanita tersebut justru berteriak-teriak “Biar saya kerjakan sendiri! Biar saya kerjakan sendiri!”

Padahal, mana mungkin ia bisa melakukan sendiri, sedangkan dua puluh lima orang saja bersusah payah mengupayakan pertolongannya dengan berbagai alat berat selama dua setengah jam? Tetapi, itulah kenyataan yang terjadi.

Sepertinya wanita tersebut merasa sama sekali tidak membutuhkan pertolongan orang lain. Bukankah hal itu juga yang sering terjadi di tengah-tengah kita? Ya, ada banyak orang yang begitu sombong untuk mengakui bahwa dirinya membutuhkan orang lain.

Padahal, siapakah kita? Bukankah kita adalah makhluk yang begitu lemah dan penuh dengan keterbatasan, sehingga kita pasti membutuhkan sesama kita?

Maka dari itu, tentunya kita perlu menyadari akan keberadaan kita tersebut. Artinya, marilah kita mengakui dengan segala kerendahan hati, bahwa di dalam hidup ini kita membutuhkan orang lain.


Kita diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, tetapi saling bergantung satu dengan yang lain. Sebuah nasihat yang sangat relevan dan berlaku bagi kehidupan kita, yaitu: kita harus senantiasa bertolong-tolongan menanggung beban ataupun pergumulan sesama kita.

Di saat orang lain membutuhkan pertolongan kita, kita harus siap sedia dan segera menolongnya. Pada saat yang lain, ketika kita mungkin diperhadapkan pada pergumulan-pergumulan hidup, kita juga bersedia menerima pertolongan. —Pdt. David Nugrahaning Widi

Tidak seorang manusia pun yang mampu hidup tanpa orang lain.

* * *

Sumber: KristusHidup.org, 6/12/2012 (diedit seperlunya)

Judul asli: Engkau Kubutuhkan

==========

05 Desember 2012

Mengasihi Secara Total

Ada kisah nyata tentang seorang bapak tua mantan pecandu alkohol di Kalifornia bernama Rings. Sejak percaya kepada Tuhan, ia tak pernah lagi memakai nafkahnya untuk membeli alkohol.

Ia tinggal di kabin mobil dan tak berusaha menyewa tempat tinggal yang lebih baik. Ia memakai semua uangnya untuk membeli bahan makanan dan memasaknya bagi para tunawisma, sembari bercerita tentang Tuhan yang telah memberi kemerdekaan dalam hidupnya.

Ia mengatakan bahwa Tuhan-lah yang menyuruhnya memberi makan orang lain dengan uang yang Dia berikan kepadanya, karena Tuhan mengasihi mereka.

Memberikan seluruh nafkah, itu juga yang dilakukan seorang janda yang datang ke Bait Allah pada zaman Yesus. Persembahannya adalah dua keping mata uang Yahudi yang terkecil nilainya. Namun, Yesus tahu apa arti uang itu bagi sang janda. Seluruh nafkahnya.


Orang-orang kaya bisa memberikan sebagian hartanya tanpa terganggu standar hidupnya. Namun, persembahan janda itu mungkin membuatnya tidak bisa makan seharian.

Kita bisa dengan mudah memberi waktu dan uang untuk kegiatan-kegiatan berlabel rohani selama itu tidak mengganggu kehidupan pribadi atau keluarga kita.

Tanpa sadar kita telah membagi ruang hidup kita menjadi "yang sekuler" dan "yang rohani", yang "milik kita" dan yang "milik Tuhan". Tuhan ingin kita mengasihi-Nya dengan totalitas hidup. Bagaimana kita akan menerapkan perintah ini? —MEL

Tuhan ingin kita mengasihi-Nya secara total. Semua aspek dalam hidup adalah persembahan kita bagi-Nya.

* * *

Sumber: e-RH, 5/12/2012 (diedit seperlunya)

==========

01 Desember 2012

Setetes Madu

“Anda akan mendapatkan apa yang Anda inginkan di dalam hidup ini apabila Anda mau membantu orang lain mendapatkan apa yang mereka inginkan.” Kata-kata bijak Zig Ziglar ini ingin mengingatkan kita, yang rata-rata adalah manusia biasa, untuk membangun hubungan sebaik mungkin dengan orang lain.

Inilah jalan terbaik untuk mengatasi kelemahan kita, yakni memanfaatkan kekuatan orang lain. Cara yang elegan untuk mendapat kekuatan itu adalah dengan menolong orang lain mengatasi kelemahan dan kesulitan mereka.

Kita bisa belajar dari pepatah kuno yang sangat dikagumi oleh Abraham Lincoln: “Setetes madu bisa menangkap lebih banyak lalat daripada segalon empedu.” Inilah cara terhebat untuk memenangkan hati orang lain.

Caranya, menurut Salomo (Nabi Sulaiman) adalah dengan perkataan yang menyenangkan. Kata-kata yang menyenangkan itu gratis, tetapi bisa mengalirkan dukungan kepada kita.

“Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” —Salomo


Setetes madu bisa menggerakkan orang lain untuk membantu kita mewujudkan impian dan tujuan kita. Transformasikanlah kebaikan kita menjadi sapaan lembut dan senyum hangat kepada orang-orang yang kita jumpai. Tentu saja harus dilandasi dengan hati yang tulus.

Biarlah kebaikan kita mewujud menjadi doa, simpati, pertolongan, apresiasi, pengertian, motivasi, dan juga kepedulian kepada orang lain.

Itulah setetes madu yang bisa kita berikan untuk memenangkan hati siapa pun agar mendukung kita. Ini senapas dengan ajaran yang berbunyi: Berilah dan kamu akan diberi!

Memberi adalah membuka diri, membuka hati kita, maka orang lain akan memberi dengan membuka hati mereka untuk kita. Tidak ada pintu yang terbuka jika setiap orang mengunci diri. Tidak ada orang yang mendengarkan jika semua orang berbicara tentang dirinya sendiri.

Kita juga tidak mungkin membangun sebuah persahabatan jika Anda dan saya selalu saja mendasarinya demi kepentingan sendiri, hanya tamak semata.

Percayalah, jika kita menabur kebaikan, orang lain yang juga merindukan kebaikan, takkan sanggup menahan diri untuk membalas dengan kebaikan pula. Sikap baik itu menular [tetapi Anda jangan naif, ada juga beberapa orang yang sudah “divaksin” sehingga tidak tertular oleh kebaikan].

Sikap baik memberikan sinyal kepada orang lain untuk berbuat baik. Ketika Anda bermurah hati, orang lain takkan bisa menahan diri untuk tidak murah hati.

Jadi, bukalah hati kita, arahkan kebaikan Anda dan saya kepada orang lain dengan menyalakan empati, menggerakkan hati, pikiran dan tindakan kita, niscaya mereka akan melakukan hal yang sama untuk kita.

Marilah memenangkan hati orang-orang di sekitar kita dengan setetes madu. —Agus Santosa

Ketika seseorang terbungkus di dalam dirinya sendiri, ia hanya menjadi sesuatu yang sangat kecil. —John Ruskin

* * *

Sumber: KristusHidup.org, 1/12/2012 (diedit seperlunya)

==========

27 November 2012

Jangan Ngegosip

Ada nasihat demikian: "Apabila Anda membicarakan keburukan seseorang, jangan lupa memulai dan menutupnya dengan doa. Maka gosip itu akan berubah namanya menjadi sharing."

Apakah Anda setuju dengan nasihat lucu tersebut? Jangan-jangan tanpa disadari, kita pun sering menuruti nasihat itu.

Apabila kita melihat saudara kita berbuat dosa, firman Tuhan meminta kita untuk pertama-tama menegurnya di bawah empat mata. Ini berarti kita diminta berbicara langsung dengan pihak yang kita anggap berbuat dosa.

Dengan melakukannya kita bisa segera mendapat penjelasan maupun pertobatan. Ini dimaksudkan menjadi sebuah tindakan kasih, karena tujuannya adalah kembalinya saudara kita.

Sementara, gosip memilih untuk membicarakan keburukannya dengan orang lain dengan maksud agar orang menjadi bersikap negatif terhadap objek yang dibicarakan.


Orang yang menjadi bahan pembicaraan tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan tindakannya, atau mendapat kesempatan untuk segera bertobat. Ia secara tidak adil telah dihakimi, entah benar atau salah perbuatannya.

Sering kali pelayanan terhambat karena hal yang sederhana ini. Kita gagal mengasihi sesama saudara. Adakah saudara kita yang telah berbuat dosa? Doakanlah dan temuilah ia secara pribadi untuk melihat ia berbalik dari dosanya.

Pikirkan dengan saksama, siapa yang patut mendengar kesalahan saudara kita. Kalau kita telah menceritakan kepada orang yang tidak berkepentingan, kita sedang menggosip.

Apabila kita diajak bergosip, tegurlah orang yang mengajak kita, dan sarankan untuk mengikuti prosedur yang dikatakan oleh firman Tuhan di atas (tegurlah dia di bawah empat mata). —PBS

Kasih yang sejati selalu berusaha agar saudara yang terhilang segera kembali.

* * *

Sumber: e-RH, 27/11/2012 (diedit seperlunya)

==========

26 November 2012

Jangan Pura-Pura Tidak Tahu

Pernah beredar sebuah video singkat di media massa tentang seorang anak yang tertabrak di jalan yang cukup ramai. Anehnya, beberapa orang yang melihat sang anak tergeletak, hanya memandangnya dan berlalu tanpa peduli.

Hingga kemudian, seorang wanita menghampiri sang anak lalu bergegas menolongnya. Wanita itu akhirnya memperoleh penghargaan dari pemerintah setempat. Bersamaan dengan itu, bermunculanlah kecaman terhadap penduduk setempat yang tidak peduli terhadap korban.


Mengambil inisiatif untuk menolong orang lain bukan pilihan yang otomatis akan diambil kebanyakan orang. Tetapi umat Tuhan diminta untuk hidup berbeda dari orang-orang yang tidak mengenal-Nya.

Dalam salah satu bagian Kitab Suci, Tuhan memerintahkan agar umat-Nya berusaha mengembalikan atau merawat binatang peliharaan milik saudaranya yang tersesat atau mengalami celaka. Ini berlaku juga untuk barang apa pun yang mereka temukan.

Mereka tidak boleh "cuek" atau pura-pura tidak tahu. Tindakan yang demikian akan membuat orang yang kehilangan terhindar dari kerugian dan bersukacita karenanya. Ini merupakan perintah yang indah, melatih kepedulian dan inisiatif untuk berbuat baik.

Bagaimanakah kita berespons terhadap kemalangan atau kekurangberuntungan orang lain? Bukan kita yang merancang kecelakaan dan kemalangan mereka, tetapi kita berada dalam posisi yang dapat menolong mereka.

Apakah itu sebuah kebetulan? Ataukah kesempatan yang Tuhan berikan untuk menyatakan kasih-Nya secara personal? Apakah kita akan melakukan sesuatu? Ataukah kita berlalu dan pura-pura tidak tahu? —PBS

Kasih kepada sesama mendorong kita melakukan yang terbaik baginya.

* * *

Sumber: e-RH, 26/11/2012 (diedit seperlunya)

Judul asli: Pura-Pura Tidak Tahu

==========

24 November 2012

Mengasihi Sesama

Seorang suami heran karena istrinya membeli jenis beras yang kualitasnya jauh di bawah beras yang biasa mereka beli. Sang istri menjelaskan, "Oh, ini untuk disumbangkan ke rumah yatim piatu. Kalau beras mahal kan untuk kita konsumsi sendiri."

Mengupayakan yang terbaik untuk diri sendiri dan tidak harus memakai ukuran yang sama ketika itu untuk kepentingan orang lain adalah keputusan yang sering kita anggap wajar, bukan?

Kita sering menganggap bahwa mengasihi Tuhan lebih penting daripada mengasihi sesama. Kita bahkan sering menggunakan dalih rohani untuk mengabaikan tanggung jawab kepada sesama.


Sesungguhnya mengasihi sesama bobotnya sama dengan mengasihi Tuhan. Yang dimaksud dengan sesama atau "sesama manusia", bukan sesama ras, agama, atau kedudukan.

Artinya, sepanjang seseorang adalah manusia, ia harus kita kasihi. Bahkan ukuran yang seharusnya dipakai adalah "seperti mengasihi diri sendiri". Sebuah standar yang sangat tinggi, karena biasanya hampir semua orang akan mengusahakan hal-hal yang terbaik bagi diri sendiri.

Siapa yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan.

Bagaimanakah kasih kita pada sesama di sekitar kita? Hari ini, perhatikanlah orang-orang yang sering Anda jumpai. Pikirkanlah hal-hal baik apa yang Anda ingin terjadi dalam hidup mereka, dan bagaimana Anda bisa menjadi alat Tuhan untuk mewujudkannya. —PBS

Melayani Tuhan dengan mengasihi sesama adalah perintah yang tak bisa dibantah.

* * *

Sumber: e-RH, 24/11/2012 (diedit seperlunya)

Judul asli: Kasihilah Sesamamu

==========

23 November 2012

Menguasai Pikiran

Surat dari seorang rekan membuat apa yang sudah saya rencanakan jadi berantakan. Berbagai pemikiran berbaris di kepala saya. Mulai dari kemarahan atas isi suratnya, kekhawatiran akan persepsi orang yang terbentuk olehnya, penilaian jelek saya tentang karakter rekan tersebut. Juga skenario balasan untuk mematahkan argumennya.

Sukar memikirkan hal-hal yang baik tentang orang itu maupun cara-cara yang bersahabat untuk menyelesaikan masalah. Pemikiran negatif saya memicu reaksi yang negatif pula.


Ketika menghadapi perselisihan, sebaiknya kita tetap mengarahkan fokus pemikiran pada hal-hal yang positif. Bukan berarti mengabaikan masalah, melainkan tidak terus berputar-putar dalam masalah.

Memikirkan apa yang Tuhan ingin untuk kita lakukan adalah langkah yang seharusnya diambil. Antara lain: menjunjung kebenaran dan berani mengakui kesalahan, mengambil keputusan yang objektif, menegur kesalahan dengan kasih, memberi dorongan semangat, serta berinisiatif untuk memulihkan hubungan.

Fokusnya bukan membenarkan diri sendiri, tetapi melakukan apa yang berkenan di hati Tuhan. Ini akan menjadi kesaksian yang indah bagi orang-orang yang melihatnya.

Apa yang kita biarkan menguasai pikiran kita akan sangat memengaruhi tindakan-tindakan kita. Ketika kemarahan, keluhan, kesedihan mulai menguasai, tahanlah diri untuk langsung bereaksi.

Datanglah kepada Tuhan memohon damai sejahtera-Nya melingkupi kita. Mintalah pertolongan Tuhan untuk mengarahkan pikiran kita pada hal-hal yang berkenan di hati-Nya. —ELS

Tuhan, kuasailah pikiranku dengan pikiran-Mu, agar aku dapat melakukan hal-hal yang menyukakan hati-Mu.

* * *

Sumber: e-RH, 23/11/2012 (diedit seperlunya)

Judul asli: Sebelum Bereaksi

==========


Artikel Terbaru Blog Ini